Lingkungan,Kita VS Hutan Beton dan Kapitalisme Lingkungan

4 February 2011 § 0



Oh tidak tidak..
Kita tidak akan berbicara apakah ini versi parodi dari Me vs High Heels ataukah kita harus berdebat apakah jenis hutan ini sudah ada nama latinnya seperti Durio zibethinus atau belum...

Atau bahkan kita tidak perlu mandi, gosok gigi,serta menyiapkan alat tulis lengkap untuk mencatat poin-poin penting dalam tulisan ini.


Karena saya cuma ingin cerita..

Ya cerita betapa kita secara tidak sadar sudah berada dalam perputaran “versus” tersebut dalam beberapa tahun terakhir.



Kenapa harus lingkungan??

Pertanyaan cerdas,begini:


Karena di masa yang akan datang kita tak akan pernah tahu apakah teknologi akan bisa menciptakan atmosfer dan oksigen yang bebas kita hirup seperti sekarang,karena bisa saja oksigen di masa depan bisa dijual eceran seperti minuman kemasan ukuran 330 ml

Karena kita ga pernah tahu di masa depan apakah makanan yang akan kita makan masih memakai proses dipanggang,dimasak,dibakar atau digoreng karena bisa saja kita nanti di masa datang makan makanan berbentuk tablet atau bahkan hanya essence (sari/aroma-nya saja )

(jika kamu lapar ya silakan beli tablet aroma nasi, aroma ayam,dan aroma sayur bayam di toko terdekat atau mau delivery order juga boleh..)

Karena kita ga pernah tahu di masa depan kelak apakah anak anak masih bisa mendengar dongeng tentang Kancil mencuri Mentimun, Gajah yang budiman,atau bahkan cerita Harimau sang raja hutan yang gagah dari ayah ayah mereka(anak anak tersebut-red) sambil diajak berkeliling kebun binatang Ragunan untuk melihat langsung rupa hewan hewan tersebut ( sambil makan cemilan kacang tentunya.hehehe). Karena bisa jadi di masa depan mereka hanya melihat replika, patung lilin, atau bahkan hanya ilustrasi gambar dari buku pelajaran sekolah mereka tanpa tahu wujud sebenarnya karena semua sudah langka atau bahkan punah.

Dan karena kita tak pernah tahu di masa datang apakah anak anak kita yang ada sekarang bisa menikmati suasana lingkungan seperti generasi terdahulunya rasakan karena bisa saja lingkungan bagi mereka kelak adalah ruangan ukuran 3x 3 dengan segalanya bersifat otomatis dan digerakkan perangkat komputer tercanggih.


Penurunan kualitas hidup, meningkatnya bencana alam, turunnya angka kesehatan, serta konsep pembangunan berwawasan lingkungan adalah beberapa poin yang menjadikan isu lingkungan beberapa tahun terakhir menjadi isu yang penting dan patut dikaji lebih lanjut dengan tujuan akhir untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan bagi mereka. .

KTT Bumi di Rio de Janeiro, Protokol Montreal,Protokol Kyoto,serta yang terakhir Konvensi Bali di Nusa Dua adalah beberapa pertemuan pertemuan penting yang membahas isu utamanya adalah lingkungan. Kesadaran secara internasional dilakukan secara kolektif karena lambat laun dampak lingkungan mulai dirasakan oleh beberapa negara di berbagai benua dan hal tersebut tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri. Dengan semakin meningkatnya perkembangan zaman maka isu lingkungan menjadi isu utama yang patut berada di posisi terdepan bukan hanya dalam kerangka kemasyarakatan namun lebih dari itu karena isu lingkungan menyangkut isu yang lebih besar yaitu masa depan umat manusia itu sendiri.


Terus apa kaitannya dengan hutan beton dan kapitalisme lingkungan??

Hutan beton adalah sebuah istilah yang mengacu pada betapa banyaknya pembangunan yang tidak mengindahkan konsep etika lingkungan. Kata hutan beton sendiri menjadi semacam sindiran bahwa hutan yang dalam arti umumnya seharusnya menjadi area yang diperuntukkan untuk penghijauan pada kenyataannya malah di-kooptasi menjadi area konstruksi gedung gedung dan bentuk fisik lainnya. Dan inilah salah satu bentuk “versus” tadi,bagaimana peruntukkan dilanggar dan akhirnya menjadi sebuah hal yang memprihatinkan.

Dalam wilayah perkotaan hutan beton ini sudah jamak terjadi dan sering kita lihat. Bagaimana Rencana Tata Ruang Wilayah dikonsep dan direncanakan dengan baik,dipersiapkan dengan terstruktur untuk beberapa tahun ke depan, namun kemudian dalam tatanan prakteknya hancur lebur dengan berbagai alasan , namun intinya satu yaitu kapitalisme lingkungan.

Ya saya sebut kapitalisme lingkungan , karena pada kenyataannya segala hal tersebut mengacu kepada seberapa besar keuntungan yang bisa didapat secara nyata dari suatu area. Suatu area hanya dihitung berdasar berapa secara nominal area tersebut dapat memberikan keuntungan bagi si pemiliknya, dan pada tahap ini isu kepedulian lingkungan umumnya berada di titik akhir pembahasan. Dan akibatnya jelas, para pemilik area yang sifatnya straegis berlomba-lomba “mencairkan” tabungan mereka tersebut dengan jalan menjualnya kepada para pengusaha (yang untuk kemudian dirubah menjadi konstruksi konstruksi pencakar langit) tanpa memperdulikan apa dampaknya bagi masa depan kita kelak.

Dan kemudian mari kita tengok sejenak ke pulau Kalimantan, tempat salah satu hutan tropis kita yang paling banyak berada. Disana sana betapa pembalakan liar adalah kejadian yang lumrah terjadi, semua itu karena hal yang sama, orientasi nominal.

Hutan dibabat,diruntuhkan tanpa peduli mana yang hutan produksi atau hutan lindung, tanpa peduli sudah layak tebang atau belum, semua dilakukan membabi buta.

Belum lagi konsesi pertambangan di area hutan lindung, dengan alasan sebagai sumber pendapatan asli daerah, izin konsesi keluar tanpa kita tahu apakah nominal keuntungan yang didapat dari royalti ataupun pajak yang dibayarkan si pemegang konsesi bisa sebanding dengan dampak kerusakan yang bisa saja terjadi di kemudian hari.

Prihatin.



Peduli

Banjir, tanah longsor,perubahan iklim, dan beberapa bencana alam lainnya adalah sebuah sinyalemen bahwa alam minta kita peduli.

Peduli dalam artian sebenarnya,

Peduli tidak hanya lips service tapi sebuah tindakan konsisten

Peduli tidak hanya dalam bentuk gerakan global namun bisa kita mulai dari hal yang kecil

Peduli tidak hanya semacam seremonial dalam satu hari dengan bagi bagi bunga,mematikan lampu,dan pernyataan sikap tapi juga menjadi semacam rutinitas yang apabila tidak kita lakukan serasa tidak lengkap aktivitas kita dalam satu hari.

Peduli bahwa masa depan adalah investasi,bukan rasa masa bodoh dan individualis

Peduli untuk saling menjaga bukan saling pura pura tidak tahu.



Dan kenapa harus kita??

Yuhuuu..Baiklah, pernahkah anda semua membaca sebuah ayat

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Ar-Ruum(31):41

Nah renungkan. Ternyata dalam kitab suci telah dijelaskan secara gamblang bahwa segalanya tergantung kita,karena kita adalah si pelaku bahkan si penentu dalam ayat ini.

Dalam ayat tersebut bisa kita renungkan bahwa darat dan laut yang rusak (sebagai representasi lingkungan) adalah akibat ulah manusia.

Hikmahnya adalah akan seperti apa lingkungan itu bagi diri kita, ya itu semua tergantung kita,umat manusia.

Pada ayat tersebut juga disebutkan bahwa segala bencana yang terjadi adalah pemberian oleh Allah kepada umat manusia agar kita dapat merasakan akibat apa yang ditimbulkan dari perbuatan kita sendiri dan pada akhirnya agar kita bisa kembali kepada jalan yang benar. Jadi bencana adalah sebuah teguran dari Tuhan agar kita bisa lebih bersahaja dalam memelihara segala yang Ia berikan, bukan sekedar memanfaatkan tapi juga memeliharanya dengan sebaik-baiknya.

Dari poin ayat tersebut diatas dapat kita ketahui bahwa segala bencana yang ada adalah akibat kita sendiri yang tidak peduli pada lingkungan. Mungkin memang bukan kita secara pribadi, karena ayat itu tidak merujuk pada nama orang,ataupun sekumpulan orang tetapi kepada seluruh umat manusia. Karena lingkungan adalah milik semua orang,dan oleh karena itu untuk menjaganya juga dibutuhkan kesadaran kolektivitas. Baik dan buruknya dampak lingkungan akan dinikmati dan dirasakan juga oleh semua orang tanpa memandang statusnya ataupun kekayaannya.

Pada akhirnya Isu lingkungan bukanlah suatu isu yang menarik bagi sebagian besar kita, dan patut kita akui bersama memang tidak ada bentuk uang yang mengalir kepada kita langsung dibanding jika kita melakukan bisnis misalnya.

Isu lingkungan adalah semacam tabungan bagi kita di hari depan. Kesadaran akan lingkungan tidak bisa kita samakan dengan retribusi parkir, dimana pada retribusi parkir kita langsung bisa mendapat manfaatnya pada saat itu juga.

Kepedulian lingkungan adalah suatu bentuk investasi dan ini yang tidak bisa dihitung secara nominal baik itu dengan metode Future Value ataupun metode ilmiah lainnya.

Kepedulian lingkungan adalah pembicaraan dari hati ke hati antara kita dengan lingkungan.

Karena dia (lingkungan-red) bisa jadi apa saja tergantung kita .

Alam bisa jadi sahabat yang baik dan bermanfaat bagi manusia jika kita memeliharanya dengan baik

Atau

Alam juga bisa jadi pembunuh yang terkeji bagi umat manusia apabila kita tidak menjaganya dengan baik

Yach itulah pilihan,karena dalam hidup selalu ada pilihan.


(sekian).

What's this?

You are currently reading Lingkungan,Kita VS Hutan Beton dan Kapitalisme Lingkungan at Ujung Waktu.

meta

§ Leave a Reply