Tentang Laki Laki itu....

24 June 2014 § 0


“ dan setelah Muhammad,engkaulah pria segalanya bagi saya—Papa__”

Dan tersebutlah sebuah hadist bagaimana mulianya seorang ibu sehingga Nabi Muhammad menyebutkannya sampaii 3 kali saat seseorang menanyakannya siapa yang patut dimulyakan olehnya. Dan jatah bapak cuma kebagian di sebutan ke 4…. Jangan tanyakan pada semua anak di dunia ini,betapa berharganya ibu bagi mereka, dan saya sendiri menganggapnya wajar kenapa sampai 3 kali Nabi menyebut kata “ummi” sebagai gambaran kemuliaannya. Dan dalam posisi ini, saya ga mau cemburu pada kalian wahai wanita, wong saya sadar diri kok, udah ga bisa hamil, ga bisa menyusui, ga bisa pula melahirkan J

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah postingan sederhana di fesbuk, sebuah postingan tentang kekaguman dan kebanggaan menjadi ayah,  dan mungkin ini yang dirasakan oleh mayoritas mereka yang menjadi ayah.

Pernahkah kamu merasa sangat dekat dengan ayahmu???
Pernahkah kamu merekam, momen momen dari ayahmu yang menjadikanmu seperti ini??

Dulu waktu kecil, saya melihat ayah dan anak hanyalah  hubungan biasa, sebuah kodrat alamiah dari sebuah siklus kehidupan. Namun saat menjadi ayah dari seorang anak (yaiyalah masak dari ayah dari sebotol guci).

Saya tumbuh dan besar dengan ada ayah saya disamping saya, dia mengajari saya segalanya, memancing, bermain layang layang, bulutangkis, dans egala lainnya dan beliaulah yang “meracuni” saya dengan buku buku sastra dan majalah sejenis Horizon (ini yang mungkin mempengaruhi kebiasaan saya dalam menulis).

Banyak kebiasaan beliau semenjak saya kecil yang hingga sekarang membuat saya mengucap “terimakasih telah menjadi ayah terbaik bagi saya, dan sebuah kebanggaan menjadi anak dari anda”.

Beliau adalah seorang guru, di sebuah sekolah yang jauh dari rumah, berbekal motor tua,ia menempuh perjalanan mulai jam 6 pagi, setiap hari dan kembali ke rumah sekitar jam 1 siang. Dan (kagumnya saya) ia tidak mau kalo ga masuk kerja hanya karena alasan sepele. Sebuah konsistensi  puluhan tahun hingga sekarang yang membuat saya malu. Ya malu, malu karena dibandingkan beliau, penghasilan saya (Alhamdulillah) lebih besar tapi tetap saja masih mengeluh karena pekerjaan saya.karena rutinitas saya.

Hal lain yang saya ingat adalah kesetiaannya pada kejujuran. Saya ingat waktu itu, saat hari hari mendekati kenaikan kelas atau pembagian raport, selalu saja ada orangtua murid yang datang ke rumah untuk bertamu (ya mosok  ke rumah mau mancing), kadang yang menerima adalah ibu saya, saya sih hanya melihat saja, sambil menonton tipi, Dan biasanya setelah mereka pulang, umumnya ada saja buah tangan yang tersuguh di meja tamu.
Saya pernah iseng nanya ke ibu saya tentang siapa mereka

Saya: itu tadi siapa ma??
Ibu saya : owh itu orangtua muridnya  papa
Saya : loh ngapain ma jauh jauh kesini??
Ibu saya : itu, mereka minta anaknya dinaikin kelasnya , kan papa wali kelasnya..
Saya : hooo…

Dan di kemudian hari saya baru tau itu adalah prosedur standar dari orangtua saya,tepatnya ayah saya, jika ada orangtua murid yang datang ke rumah maka yang menemui adalah ibu saya, karena mereka yang datang ke rumah itu,biasanya adalah orangtua murid yang bermasalah, dan ayah saya tidak  mau memaksakan naik kelas,mereka yang memang tidak layak untuk naik kelas, meski disguhi dengan beberapa kaleng Khong Guan.

Mungkin bagi mereka berdua (orangtua saya), hal hal ini mereka lupa, tapi bagi saya, sebuah pelajaran hidup yang luar biasa, dan saya masih mengingatnya sampai kini.


Dan beberapa tahun kemudian, suatu ketika, terbetik di otak saya, saat saya sudah berstatus seorang ayah dari seorang bayi yang luar biasa lincahnya

“,pernahkan terpikir olehmu momen apa yang terindah bagi ayahmu dulu saat memiliki kamu??”

Nah kan, akhirnya..selama ini saya berbicara dan memandang dari sudut pandang anak, sekarang,saya harus berpikir dari sudut pandang ayah..

Setelah punya anak, saya  meerasa dari sejak Gibran lahir ampe detik ini, semua momen yang terjadi selalu indah, mulai dari guling guling, tengkurap, belajar makan, belajar berdiri, belajar ngobrol, sampe sekarang dah kayak bola karet bagi saya ya mengagumkan …subhanallah, its so beautiful..

Mungkin ayah saya dulu saat menikmati momen momen menjadi bapak muda nya  punya perasaan yang sama seperti saya, atau mungkin juga tidak  sama persisi seperti saya antusiasnya, tapi yang pasti saya merasakan bahwa menjadi ayah, adalah sebuah keberkahan luar biasa.

Melihat Gibran,seperti saya memandangi cermin yang bisa mengantar kita ke masa lalu,bagaimana waktu saya kecil mungkin ayah saya memandangi saya seperti itu. Penuh kasih sayang,penuh cinta, sebuah rasa yang ayah dan ibu saya berikan kepada saya dan kedua adik saya secara cuma cuma.

Menjadi seorang ayah, menjadikan saya tau bagaimana sayangnya orangtua kita kepada anaknya. Menjadi orangtua menjadikan saya menyesali momen momen bandel saya kepada orangtua saya.
Menjadi seorang ayah menjadikan saya tau,betapa besarnya  kebaikan yang diberikan mereka berdua,sejak saya baru lahir  hingga detik ini

Menjadi seorang ayah menjadikan saya tau betapa saya harus lebih peduli pada orangtua. Meskipun dibeberapa titik ada ketidaksesuain dengan mereka, tetap saja, mereka orangtua saya, dan saya ingin menjaga mereka hingga saya tak sanggup lagi berdiri. Saya ingin seperti mereka yang mencintai orangtua mereka sampai mereka tua.

Saat nenek (dari pihak ibu) masuk rumah sakit dan akhirnya meninggal, ibu saya menginap di rumah sakit setiap hari. Ia melakukan segalanya untuk ibunya (nenek-red), mulai dari berdoa, sampai menuntunnya ke kamar mandi, dan saya dari sebrang pulau mendengarkan ceritanya lewat telepon. Dan meski pada akhirnya nenek tak bisa terselamatkan, beliau meninggal dunia. Namun setidaknya ibu saya berucap sudah ikhlas karena sudah melakukan segalanya yang terbaik yang bisa ia lakukan untuk ibunya untuk terakhir kalinya.
Dan saya mau seperti itu, melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan,ga cuma untuk ibu saya, tapi juga untuk beliau..

Iya beliau…
Beliau yang setelah Nabi Muhammad, saya mengidolakannya luar biasa,
Ayah saya



Cuplikan:
Kemarin malam saya telpon ke rumah, yang menerima adalah  ayah saya. Terus terang sebuah kekakuan sebenarnya untuk ngobrol berdua saja. Tepatnya kikuk kali ya,..Entah kenapa, apakah antara anak  laki laki dan ayah nya  tu kayak gitu ya  Soalnya kalo nelpon, biasanya yang menerima adalah ibu saya, dan jika ayah saya yang menerima telponnya paling sapaan “ apa kabar pa, lagi ngapain?” adalah sebuah pertanyaan standar yang kemudian dijawab oleh beliau dan kemudian dialihkan langsung ke ibu saya…

Tapi kali ini lain, kami ngobrol agak lama, tentang pekerjaan saya, tentang tingkah laku cucunya, dan hal hal kecil lainnya mulai dari seringnya mati listrik disana dan bakal milih siapa di Pilpres ntar. Bahkan kondisi jalan lintas Sumatra yang katanya sekarang jadi bagus dan layak dilewati. Dan setelah ngobrol cukup lama akhirnya sampai juga di percakapan terakhir antara kami.

“ pa doain ya”…
“iya”….jawab beliau

Dan terus terang saya rindu untuk kembali ke masa itu, masa kecil saya.
Jam 1 siang hari, saya menunggu di depan rumah, menunggu beliau pulang dengan motor nya. Raut muka lelah bekerja, masuk ke halaman rumah menghampiri saya.
Dan kemudian beliau menarik sesuatu dari belakang punggungnya..
Sebuah koran bertanggal hari ini…dan menyodorkannya kepada saya,untuk dibaca..












Jangan Taklid Buta dong!!!

§ 1


Saya punya teman di fesbuk, yang kekeuhnya setengah mati membela salah satu calon presiden yang diusung partai pujaannya. Ya bisa disebut dia simpatisan (soale setau saya dia bukan kader). Yang saya miris adalah setiap kejelekan atau berita apapun yang menyangkut kandidat presiden lain, maka dia akan menshare nya ke  jaringan social media nya. Entah itu fesbuk, twitter, atau apalah lainnya. Dan begitu juga saat info baik dari capres pilihannya muncul,dia akan menshare nya pula.

Dalam hati saya berpikir, apakah tidak bisa kita menjadi muslim yang baik, yang bertabayyun dan berbaik sangka kepada orang lain?
Bukankah nabi sendiri mengajarkan kita berbuat baiklah kepada orang lain meskipun ia bukan muslim, kecuali terkait dengan ajaran ketauhidan?
Saya jadi mikir sendiri, kedua kandidat capres adalah orang Islam, kemudian saya menshare berita yang saya sendiri ga jelas tau itu berita benar atau salah, dan jika di kemudian hari ternyata itu berita yang saya share adalah salah,apakah saya ga malu sudah ikut dalam fitnah berjamaah ini?

Saya pribadi berpikir, silakan cermati saja info yang ada, jangan coba menshare berita dari media dunia maya, meskipun berlabel islam, karena saya pernah inget suatu hal yang saya lupa ngutip dimana, saat kita menceritakan keburukan orang lain, jika itu benar beritanya maka kita termasuk orang yang bergunjing (ghibah) dan jika ternyata berita itu salah, maka kita termasuk dalam golongan orang yang memfitnah..

Come on teman teman, jadilah dewasa, jangan semangat keislaman anda malah dijadikan alat oleh syaitan untuk membuat anda menebar fitnah menciptakan gunjingan.
Karena setan tentu sudah berpikir, ghirah keislaman, jika berlebihan bisa menjadi dosa bagi mereka yang justru mengaku muslim.

--sekian--

Kesempatan

30 October 2013 § 1

Ada 2 ruang, masing masing penuh manusia
Dan lihatlah, di tiap ruang tersebut
Tiap orang berbicara tentang hilangnya kesempatan dan adanya kesempatan.
Mereka yang berbicara hilangnya kesempatan mengarahkan pada penyesalan
Kenapa tidak mengggunakan waktu yang ada…
Kenapa tidak bisa memanfaatkan waktu yang ada
Kenapa sulit untuk mengelola waktu yang tersedia.
Dan kenapa-kenapa lainnya yang intinya penyesalan
Hilangnya sebuah kesempatan,
Hilangnya sebuah peluang
Untuk menjadi lebih baik, atau bahkan mungkin sebaliknya

Di sekat ruang yang lain
Mereka berbicara dengan nada optimis, tentang kesempatan
Kesempatan ini bisa kita manfaatkan untuk blab la bla
Kesempatan ini bisa kita jadikan titik awal untuk blab la bla
Kesempatan ini adalah kemungkinan terbesar kita mencapai blab la bla…
Dan semua hal tentang peluang
Yang intinya optimism
Munculnya sebuah peluang
Timbulnya peristiwa, yang bisa jadi peristiwa baik,atau malah sebaiknya..

Kesempatan dan peluang adalah partikelnya waktu
Sedang hilang dan munculnya adalah kuasa Tuhan.
Maka wajar, jika Tuhan sampai bersumpah

“Demi Masa..”

Karena waktu, tidak bisa diulang,
Ia mengalir,menciptakan kesempatan dan peluang
Ia mengalun,memberikan penyesalan,atau kenangan manis di kemudian hari

Si “pengganggu” dari bangku deret kelima

§ 0


ternyata begitu berat
jalankan semua printahMu
bekerja dan terus bekerja
tak kenal lelah dan tak kenal waktu
gema adzan subuh, kami tidur terlelap
gema adzan dhuhur, kami sibuk bekerja
gema adzan ashar, kami geluti dunia
gema adzan magrib, kami diperjalanan
gema adzan isya’, lelah tubuhku Tuhan
tak pernah lagi, kubaca firman-Mu
pantaskah surga untukku ?
tak pantas aku di Surga-Mu
tak kuat aku di Neraka-Mu
berikan kami pentunjukmu
(lirik lagu Gema adzan -lagu yang sering dinyanyikan pengamen)

Terlalu lama juga saya ga memposting isi blog ini, bukan tak ada ide menulis,lebih tepatnya sih saya malas. Banyak ide menulis, namun semua buyar oleh kesibukan lain, kadang sempat berandai andai,ada mesin yang bisa menuliskan isi pikiran saat itu juga, mungkin saya akan membelinya,biar mudah.hehehe.

Aniwei pernah ketemu pengamen?
Ah pertanyaan basi ya, jelaslah pernah. Wong pengamen itu udah jadi bagian struktur masyarakat kok, selain pemulung dan peminta minta). Tulisan ini terinspirasi dari mereka, salah satu kaum marginal yang ada di kehidupan kita.
Mereka bisa darimana saja,dari kalangan apa saja,dan dari rentang umur berapa saja.

Ada yang wujudnya anak kecil. Di rumah saya,tiap siang ada anak kecil, mungkin sekitar 6 tahun umurnya), mengamen sekedarnya, sholawatan sekedarnya, setelah diberi uang ia pergi, sholawatnya ga selesai. Lain waktu ada beberapa anak kecil, nyanyinya sama, dan sama juga, setelah diberi uang,ia pergi, belum selesai sholawatnya.

Di deket lampu merah ada mereka, berwujud anak muda, ada yang perlente,ada yang dekil luar biasa. Ada yang hanya berbekal gitar, ada yang ditambahkan harmonica. Suaranya ada yang biasa, ada pula yang luar biasa. Ada yang ikhlas minta nya, ada yang sebaliknya…

Di atas bis, 
ehmm..ini ni yang mau saya perbincangkan…
Diatas bis mereka umumnya berada di posisi tengah bis, yaitu deretan bangku nomor 5 atau 6 (kalo jenis bis yang besar ya). Jadi jika anda  naik bis kota dan berada dalam posisi sangat lelah dari bepergian atau bekerja, say sarankan hindari duduk di deretan bangku 4 dan 5 jika tak mau terganggu oleh suara nyanyian mereka.
Untuk pengamen di bis ini saya membaginya menjadi 2 jenis pengamen yang saya amati,ada yang pengamen yang levelnya angkot (artinya ni pengamen sebenernya biasanya jamak ditemui ngamen di lampu merah atau angkot, pokoknya ga cocok untuk di bis deh), ada lagi yang level nya level bis beneran. Nah kalo yang level bis ini biasanya mereka kreatif, suaranya lumayan lho, dan tampilannya oke oke.

Pernah saya temui dalam perjalanan Bogor-Jakarta beberapa tahun lalu,pengamen wanita bersama bapaknya (semoga tebakan saya benar), suaranya bagus banget, penampilannya pokoknya oke banget, dan sempet mikir, ini pengamen beneran apa mahasiswi yang lagi “uji nyali” dengan tampil di muka umum ya.hehehe. Sempat beberapa minggu saya menikmati suaranya.
Ada lagi pengamen yang dari tampilan luarnya sudah seperti anak band yang turun ke bis untuk mentas. Gayanya sangat atraktif, tampilannya sangat menarik,suaranya bagus, pokoknya sangat komunikatif. Pokoknya tiap dia naik bis,ada satu lagu yang jadi favorit saya, soalnya dia menyanyikannya dengan gaya hiphop,diselingi rap, dan meng tap gitarnya sekaligus. Sampai sekarang pun saya penasaran itu lagu buatan dia sendiri atau bukan, soalnya saya cari di google dengan kata kunci lirik yang sempat saya ingat tidak ditemukan juga.
Nah sepertinya pengamen bis juga belajar banyak tentang psikologi penumpangnya, sepertinya mereka tau kondisi apa yang cocok dengan lagu apa,misalkan saja ya, saat pagi hari menjelang berangkat kerja, lagu yang mereka pilih adalah lagu bertema semangat atau lagu lagu mendayu dayu. Kemudian siang harinya,umumnya mereka memilih lagu yang bertempo cepat, kemudian malamnya mereka memilih lagu bertempo lambat,umumnya adalah lagu lagu jaman dulu yang ngehits.
 
Bagi saya sendiri,  mereka, para pengamen itu  “pengganggu”.
Ya pengganggu yang baik, makanya saya menuliskannya dalam tanda kutip,setidaknya kalo saya lagi tidak berada dekat deret kursi penumpang nomor lima, suaranya kan jadi sayup sayup, apalagi kalo lelah, seperti pengantar tidur bagi saya. Kalo kebagian dekat tempat mereka “mentas”, ya saya jujur, sering menikmati lagu yang mereka nyanyikan, karena kebanyakan mereka memang bagus suaranya (setidaknya dibanding saya)

Dan jika ingin memastikan apakah benar tulisan saya ini,silakan naik bis kotanya, dan nikmati perjalanannya.. syukur syukur ketemu mereka,pengamen di bis kota. 

Si “pengganggu” dari deret kursi nomor lima


 

UN : Ujiannya Ngeri

18 April 2013 § 0

"Harapan saya enggak ada UN. Bikin stres. Ya orang kan mesti dihitung disiplinnya, bukan cuma dari UN. Orang mesti dilihat prosesnya. Kalau sistem pendidikan yang baik itu prosesnya, bukan hasilnya," tegas Ahok, di Balai Kota Jakarta, Senin (15/4/2013).

Heran,semakin maju zaman,semakin canggih teknologi,semakin mudah manusia, eh malah kok kayaknya makin ngeri ya..

Berita tentang carut marutnya Ujian Nasional menghiasi timeline,new status dan headline di media yang sayabaca. Mulai dari penundaan Un di 11 provinsi sampe acara acara istigosah dan sampai hal hal klenik seperti menjampi jampi pensil ujian yang akan digunakan. Kondisi apa ini?

Kok kayaknya jaman saya EBTANAS dulu ga seheboh ini deh

Itu cuplikan status saya di FB beberapa waktu lalu. Mekanisme UN seyogyanya adalah mekanisme pendidikan, dimana di dalamnya ada manajemen pelaksanaan dan ada konsep standarisasi dan evaluasi, dan 2 poin ini yang menurut saya berkontribusi besar menyebabkan UN kali ini nge hits banget.

Manajemen Pelaksanaan
UN sebagai sebuah sarana penguji bagi siswa seharusnya dilaksanakan secara profesional dan terencana. Keterlambatan soal ujian dan penundaan ujian di beberapa provinsi merupakan cerminan buruknya metode pelaksanaan Ujian yang sifatnya Nasional ini. Perlu kita pahami, tidak usah lah memandang dari segi ujiannya, wong dari kondisi biasanya saja, untuk wilayah wilayah yang terpencil itu sudah diketahui sulit dijangkau dari segi transportasi, lha kenapa ga coba mendahulukan distribusi soal UN ke wilayah itu dulu. Prioritaskan mereka baru wilayah yang lebih mudah dijangkau, jadi distribusi soal ga kacau seperti ini dan UN ga ada ceritanya ditunda kayak sekarang,Selain itu apa ga dibentuk satgas yang mengkoordinir wilayah wilayah pendistribusian UN ya, toh menurut saya jaman sekarang ga ada hambatan lagi bagi distribusi UN kecuali manajemen pelaksanaannya yang kacau balau.

Jaman sekarang teknologi komunikasi sudah berkembang pesat, teknologi transportasi sudah maju sekali namun kenapa ada keterlambatan?

Alat seperti mesin mesin dan kendaraan hanya bersifat tool yang membantu manusia, sedangkan jika factor manusianya sendiri tidak bisa memanfaatkannya ya tetap saja hasilnya kacau balau kan.

Evaluasi plus Standarisasi
Masih ingat saya beberapa waktu lalu tentang pro kontra UN, yang intinya “lakukan atau hapuskan UN”. Saya sendiri berpendapat bahwa UN itu perlu tapi harus dimodifikasi. Dalam artian UN boleh saja dijadikan tolak ukur evaluasi tapi bagi saya pribadi tidak usah dijadikan alat untuk menstandarisasi. Dalam faktanya sekarang UN menjadi alat standarisasi , jika tidak lulus UN maka siswa tersebut tidak cerdas, dan begitu sebaliknya.

Akibatnya banyak hal hal yang berbeda dengan jaman dulu, jadi ga aneh sekarang saya liat berita ada sekolah yang siswa nya melakukan istigosah trus doa bersama menjelang UN bahkan hal hal klenik kayak jampi jampi,mandi kembang,hingga diruwat muncul menjelang UN ini.

Kemunduran moralkah, hingga terjadi seperti ini,atau phobia berlebihan sehingga terjadi seperti ini?

Konsep pendidikan adalah mengembangkan potensi anak secara maksimal, dan medianya adalah dengan dididik oleh mereka yang disebut pengajar atau guru. UN sebaiknya digunakan sebagai alat evaluasi prose pendidikan yang terjadi selama ini sehingga bisa dilakukan perbaikan.

Perlu diperhatikan pula potensi tiap siswa itu berbeda, mereka yang nilainya jelek secara akademik bukan berart mereka tidak cerdas, karena bisa jadi ia lebih pintar di bidang lain. Seorang anaka yang nilai Matematika dan Fisika nya sellau 3 bisa jadi memiliki nilai 10 di bidang menari, dan ini yang arus kita pahami sebagai potensi. Pendidikan sejatinya tidak mengenal kategori, karena dasarnya sudah jelas, tipa orang memiliki potensi yang berbeda. Dan disini peran pendidikan itu.

Fakta sekarang adalah, siswa “dipaksa” belajar untuk beberapa mata ujian (yang bisa jadi bukan potensi tertingginya),kemudian diujikan selama 3-5 hari dan kemudian menunggu hasil nya. Muncul cap “lulus ujian” dan “tidak lulus ujian”. Dan akibatnya semua pihakmenjadi panic luar biasa, si anak sibuk les sana sini demi menambah pengetahuannya, ortu sibuk dan ketar ketir saat hasil try out anaknya ga memuaskan, dan guru juga was was khawatir anak didiknya ga lulus UN.

Kenapa ga kita coba dari konsep dasar pendidikan itu saja, buat UN sebagai alat evaluasi tapi jangan standarisasi.Jadi tidak menjadikan patokan hasil UN untuk masuk ke jenjang selanjutnya. Posisikan saja UN sebagai alat evaluasi bahwa anak didik ini lemah di mata uji ini, dan kuat di mata uji ini,sehingga anak didik tidak menjadi tertekan.

 Ini sih sekedar usul saja tapi bagi saya, saya pribadi setuju dengan pendapat Ahok (wakil gubernur Jakarta), pendidikan itu hendaknya dilihat dari proses bukan hasil akhir. Proses yang baik akan menghasilkan ouput yang baik (insya allah). Dengan memfokuskan pada proses pendidikannya, maka semua pihak baik guru, ortu dan siswa nya senidri bisa lebih nyaman melaksanakannya. Pemerintah, harusnya memfasilitasi saja proses ini, sediakan system pendidikan yang layak,ruang kelas yang nyaman, sarana pendukung yang update, dan kualitas guru yang meningkat.

Saya pribadi berpendapat bahwa setiap orang punya potensi masing masing, dan kecerdasannya tidak bisa digeneralisir. Dan adalah tugas guru dari masing masing siswa yang harus mengembangkan potensi anak didiknya.Biarkan guru sebagai si pendidik yang melakukan proses mengembangkan potensi bagi si anak didiknya, Biarkan proses terjadi dan liat hasilnya. UN boleh saja diadakan,tapi jangan jadi patokan utama bagi kualitas pendidikan masing-masing siswa, apalagi jadi alat ukur untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, bisa salah kaprah jadinya.