Kita yang selalu berpikir singkat...
Beberapa hari yang lalu, seorang profesor dari IPB (yang menjadi pengajar saya) menerangkan tentang konsep efektif dan efisien ini.menurut pengajaran beliau, Efektif adalah melakukan sesuatu yang benar dan efisien adalah melakukan sesuatu dengan benar. Celakanya orang banyak menganggap bahwa efektif berarti lebih berorientasi pada penghematan biaya, sedangkan efisien lebih merujuk kepada waktu yang digunakan untuk melakukan sesuatu. Kesalah kaprahan ini yang kadang memberikan pertanyaan ambigu atas tindakan-tindakan yang selama ini kita lakukan setiap hari. Naik ke trotoar hanya karena terjebak macet dan peluang kita dimarahin di kantor karena telat kadang membuat kita merasa perlu melakukan hal yang efektif dan efisien ini. Maka dimulailah penjelajahan trotoar yang awalnya untuk pejalan kaki, tiba-tiba diubah menjadi jalur kendaraan dan pejalan kaki harus rela untuk menyingkir. Hal ini memang kalau dihubungkan dengan keefektifan dari segi biaya dan waktu jelas tepat, tapi saat dihubungkan dengan kaidah “yang benar dan secara benar” maka patut dipertanyakan lagi. Kaidah yang benar dan secara benar sesungguhnya mencerminkan peran etika dalam pelaksanaan konsep efektif dan efisien tersebut.
Saat kita menyandarkan pada segi waktu dan biaya, maka kita menjadi mengabaikan konsep etika di dalamnya, segala cara menjadi halal asalkan dapat menghemat waktu dan biaya, itu jargonnya. Namun benarkah cara itu??
Mungkin saja bangsa ini tidak bisa maju karena salah satunya mental seperti ini. Etika dalam konsep efektif dan efisien kadang tidak diperhatikan. Orientasi pada hasil akhir yang melenakan membuat kaidah moral menjadi sesuatu yang serasa “jauh” untuk disentuh. Dalam kondisi ini terlihat bahwa sebenarnya mengerjakan sesuatu yang efektif dan iefiisen tidak selamanya benar jika mengacu pada hasil akhir. Proses yang beretika juga patut diperhitungkan. Kecermatan timing dan tindakan yang efektif dan efisien dari segi waktu dan biaya akan terasa sia-sia saat etika dalam melakukannya diabaikan.
Jadi masihkah kita akan bertindak dengan efektif dan efisien tanpa ada etika di dalamnya??
Sekian

Sudah sukses??
Apakah ukuran sukses dalam hidup?
Punya uang yang banyak?
Memiliki keluarga yang supported disegala situasi?
Atau bahkan diukur dengan banyaknya rumah, mobil dan tanah yang kita punya??
Ah entahlah, ukuran sukses menjadi bias dan relative sekarang.
Ada yang dianggap sukses dengan punya harta yang banyak, ada juga yang dianggap sukses dengan memiliki kekuasaan yang besar. Entah itu jadi wakil rakyat, atau pembesar negeri ini. Tapi ukuran sukses selama ini masih dilekatkan pada embel-embel duniawi.
Jadi jangan salah jika masih banyak orang belum merasa sukses. Jika ia belum punya uang yang banyak, ia masih merasa belum sukses. Jika ia merasa belum punya rumah lebih dari satu, dia belum merasa sukses. Akibatnya orang menjadi berujung ganda ada yang menjadi termotivasi positif, ada yang menjadi negative.
Pandangan akan keberhasilan secara sederhana dapat kita amati dari fenomena yang ada. Pernah suatu surat kabar menuliskan berita tentang penjualan telepon seluler meningkat menjelang hari raya Idul Fitri. Dari analisis koran tersebut didapati bahwa umumnya hal ini karena fenomena mudik yang menjadi semacam, tradisi di indoensia. Para perantau yang akan pulang kampong umumnya ingin mencitrakan keberhasilannya di perantauan dengan sesuatu yang menjadi tanda keberhasilannya. Sebenarnya lebih tepatnya kita sebut gengsi, bukan sebuah keberhasilan, dan dipilihlah handphone, sebuah tekhnologi yang dianggap modern saat itu. Akibatnya saat lebaran tiba, orang-orang mendadak menjadi orang lain yang berada di luar kesehariannya.
Sukses menjadi kata yang relative dan lebih bersifat pandangan orang lain daripada ukuran diri pribadi.
Seseorang diukur sukses dari berapa banyak pandangan kekaguman orang lain terhadap dirinya. Dan akibatnya jelas. orang kadang terperangkap dalam struktur yang diimaginasikan oleh orang lain, bukan oleh dirinya sendiri lagi.
Menurut Maslow.dalam teori hierarki kebutuhannya, kebutuhan dasar manusia salah satunya adalah kebutuhan akan penghargaan. Dalam konsep social, penghargaan ini dapat berupa apa saja, bisa pujian, bisa kekaguman, bisa juga penghargaan. Dalam konteks ini patut dicermati bahwa tiap orang ingin sukses, dan ukuran kesuksesan seharusnya adalah kepuasan yang ada dalam diri seseorang atas pencapaian yang telah dilakukannya.
Pertanyaan baru muncul?
Sejauh apa sih kita puas dengan pencapaian yang ada pada diri kita?
Lima (5) kebutuhan dasar Maslow - disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting yaitu sebagai berikut:
1.Kebutuhan Fisiologis
Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.
2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Contoh seperti : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya.
3. Kebutuhan Sosial
Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.
4. Kebutuhan Penghargaan
Contoh : pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri
Adalah kebutuhan dan keinginan untuk bertindak sesuka hati sesuai dengan bakat dan minatnya.
Dan hubungan kepuasan ini harusnya dikembalikan kepada teori Maslow lagi. Kepuasan yang ada dan menjadi dasar dalam ukuran sukses seseorang sekarang ini masih berada dalam tatanan duniawi. Maslow sendiri dalam tahun-tahun terakhirnya merevisi teorinya tersebut (Stephen R.Covey dalam bukunya First Things First). Katanya, Maslow mengakui bahwa aktualisasi diri bukanlah kebutuhan tertinggi namun masih ada lagi yang lebih tinggi yaitu self transcendence yaitu hidup itu mempunyai suatu tujuan yang lebih tinggi dari dirinya. Mungkin yang dimaksud Maslow adalah kebutuhan mencapai tujuan hidup beragama. Sekarang lebih dikenal sebagai kebutuhan spiritual.
Jadi sebenarnya dari sini kalau boleh saya berpendapat bahwa, teori hierarki Maslow meskipun mengabaikan karakteristik yang dimiliki individu dan menganggap semua orang sama, tetap harus kita perhatikan bahwa secara mendasar pemenuhan kebutuhan yang ada bersifat hierarkis dari satu tingkat pemenuhan kebutuhan ke pemenuhan kebutuhan lainnya, tanpa mengecilkan kenyataan bahwa ada pula orang yang tidak mengikuti pola umum dari Maslow.
Dalam kaitan tulisan ini, sukses menurut saya secara garis besar adalah relative dan bersifat personal atas tiap pribadi yang ada. Ukuran sukses yang ada sekarang bercermin pada penilaian orang lain yang sifatnya duniawi dan merupakan cerminan pencapaian-pencapaian yang ada dari teori Maslow tersebut. Akibat dari sukses yang diukur dari pencapaian subjektif orang lain dan orientasi duniawi, maka sebagian orang cenderung berusaha untuk menjadi yang bukan dirinya dan puas jika pencapaiannya dirasa berhasil oleh orang lain. Dan ini yang mungkin dapat kita kategorikan kebutuhan akan penghargaan. Akibat buruknya orang menjadi tidak pernah puas, karena ukuran suksesnya dibangun dari tolak ukur penghargaan orang lain, padahal sejatinya ada kebutuhan lain yang lebih tinggi dari kebutuhan akan penghargaan itu sendiri yaitu self transcendence, sebuah kebutuhan spiritual yang menurut saya pribadi menjadi dasar dari setiap keputusan dan kepuasan dari setiap orang. Unsur psikologis dalam konsep sejauh mana kesuksesan harus dibangun idealnya harusnya selaras dengan kebutuhan ini sebagai pemenuhan yang tertinggi.
Jadi menurut saya pribadi, saat kita berbicara sukses, kita sebagai pribadi tidak perlu berusaha membandingkannya dengan tautan duniawi dan penilaian subjektif yang berasal dari orang lain, cukup lihat dan koneksikan dengan kebutuhan self transcendence versi Maslow tersebut, karena sebagai sebuah konsep yang tertinggi, seharusnya semua kebutuhan yang ada di bawahnya berada di bawah control tidak langsung dari kebutuhan self transcendence tersebut. Saat kita bersandar pada penilaian sukses versi duniawi, sepertinya tak akan ada habisnya, dan bahkan hal inilah yang menjebak kita terperangkap dalam pusaran kebingungan akan eksistensi kita hidup. Dan sesungguhnya eksistensi kita hidup saat kita meletakkan konsep sukses pada tag kebutuhan akan self transdence, dengan begitu arahan yang ada menjadi jelas dan tidak lagi berorientasi pada penilaian orang lain tapi pada penilaian sang Maha Pencipta.
Dengan adanya control dari self trancendence ini, tiap pencapaian menjadi sebuah kesyukuran yang diterima oleh seseorang sebagai bagian dari kuasa Tuhan. Sejatinya manusia tak akan pernah puas, dan hanya dengan control spiritual manusia bisa menghayati eksistensi sukses sebenarnya adalah sejauh mana setiap orang berusaha sebaik-baiknya dan bersyukur atas apa yang telah dia capai dalam hidup. Dengan adanya self transcendence ini tiap manusia diharapkan dapat kembali mengontrol dirinya sendiri, bukan dikontrol oleh opini orang lain.
Ada yang mau berpendapat ?
Monggo…
Sekian dulu…
Menemukan Lentera jiwa, sudahkah kita??
Vina Staff Komnas Perempuan masih nunggu saat yang pas untuk terjun ke music
Devi pemain harpa Profesional, Asli Lulusan Tehnik Mesin
Indah Presenter Infotainment, tapi S1 Arkeologi.
“kalo dah gede mau jadi apa??"
Dan meluncurlah jawaban-jawaban yang dulu terasa hambar jika kita bayangkan sekarang. Pilot, Pramugari, Dokter, Insinyur adalah beberapa cita-cita (profesi tepatnya) yang akan disebut saat kita kecil dulu. Betapa penanaman nilai-nilai bahwa cita-cita itu adalah yang terbaik bagi kita dulu. Tak ada mungkin yang menyangka jika kita ditanya dengan pertanyaan yang sama dan kita menjawab supir truk, kernet angkot, atau malah makelar, bahkan mungkin hanya tertawaan saja yang diberikan oleh mereka yang kala itu dewasa jika kita menjawab seperti itu.
Dan sesungguhnya perjalanan menjadi sebuah proses panjang perilaku kita, seiring waktu kita berproses.
Saat dewasa kelak tiap orang ada yang memilih jalan hidupnya masing-masing. Dan pertanyaan-pertanyaan tersebut seolah menggelayut di setiap langkah kita. Dan terekam kembali jawaban-jawaban yang kita ucap saat kecil itu.
Ingin jadi dokter bisa nyembuhin orang sakit
Ingin jadi pilot biar bisa nerbangin pesawat..
Tapi sekarang nyatanya…
Saat dewasa apakah semua orang bakal jadi dokter semua?
Saat besar apakah semua akan menjadi insinyuratau pilot semua?
Jadi siapa yang mau jadi ibu rumah tangga, supir truk, kernet bis, dan makelar tanah kalo semua isinya dokter dan insinyur atau pilot??
Kita diinspirasi sejak kita kecil oleh orang-orang terdekat kita untuk menjadi gambaran ideal dari sebuah cita-cita. Dokter, Insinyur, pilot, pramugari, bidan, adalah gambaran akal atas sebuah komposisi ideal atas sebuah pengharapan kebutuhan manusia. Dan akibatnya secara ga sadar perjalanan hidup kita merekamnya menjadi semacam langkah untuk kesana.
Banyak orang yang menjadi insinyur tapi ga lebih bahagia karena pekerjaannya. Tak sedikit pula mahasiswa yang kuliah tapi malas-malasan dengan jurusan yang ia tekuni. Dan banyak lagi contoh individu yang merasa tidak berada sesuai dengan bidang yang disukainya.Dan beribu alasan pula untuk menjawabnya. Mulai dari karena ga tau mau jadi apa, cuma ikut-ikutan, sampe karena paksaan orangtua. Alasan-alasan yang muncul mengindikasikan bahwa mereka tidak enjoy dan happy dengan kondisi mereka sekarang.”
Berawal dari pulang kuliah malam dan mendapati televisi hidup secara ga sengaja Sebuah video klip Nugie judulnya Lentera Jiwa. Sangat menginspirasi, dan bagaimana saya menemukan beberapa nama penting yang ada dalam video klip itu, Sogi (Extravaganza) dan Wahyu (animator, wakil KDRI). Lagu tersebut bercerita panjang tentang sebuah perubahan. Dan pagi ini, akibat terpesonanya dengan lagu tersebut,mouse komputerpun saya arahkan ke kolom address untuk mengetik lentera jiwa di search google. Dan termuatlah ribuan tulisan dengan keyword lentera jiwa. Saya coba pilih beberapa hasil pencarian teratas. Dua artikel menautkan poin-poin penting yang saya lintasi dalam beberapa jam belakangan ini.
Dan pertanyaan besar terbentang dalam benak setelahnya :
Sudahkah kita menemukan pilihan hidup yang tepat untuk kita?
Apakah itu penting?
bagi saya justru itu pertanyaan pertama yang keluar saat ingat video klip tersebut.
Menemukan diri menjadi something different dari apa yang kita inginkan itu yang saya maksud. Sudahkah kita memiliki perasaan mencintai apa yang kita tekuni saat ini. Ga cuma pada pekerjaaan, apakah kita sudah menemukannya, sesuatu yang kita dengan senang hati mengerjakannya, meski diukur secara material ga cukup menarik bagi orang lain?
Atau kalo kata Nugie dalam lagunya, sudahkah kita menemukan lentera jiwa kita??
Terlalu banyak mimpi yang ingin dikejar dalam diri kita masing-masing. Pertanyaannya adalah mimpi mana yang akan kita turuti? Dan apakah setelah menjadi kenyataan mimpi tersebut kita menjadi nyaman karenanya??
Masih banyak obesi yang terpendam dalam diri kita. Saya contohnya dulu waktu kecil sangat ingin jadi pilot, tapi mendadak saat SMA menjadi tergila-gila dengan psikologi, dan anehnya pas memilih jurusan untuk kuliah malah maunya masuk kehutanan. Dan hasil akhirnya saya malah kuliah di jurusan ekonomi.
Apa ini yang namanya tuntunan nurani?
Ah tapi rasanya ga juga,
Saya merasa bahwa hidup adalah pilihan. Terlalu banyak pilihan dalam hidup dan kita yang menentukan hendak kemana kita. Poin penting dari hal ini adalah sejauh mana kita nyaman akan suatu keadaan dan bisa menciptakan kenyamanan bagi kita sendiri.. Mungkin diantara kita secara ga sadar sudah punya apa yang disebut oleh Nugie sebagai lentera jiwa, tapi lenteranya belum dinyalakan atau bahkan apinya masih redup.
Orang merasa tidak nyaman saat berada dalam kondisi tertentu. Merasa ga nyaman meski jadi kepala cabang dengan gaji melimpah. Merasa malas kuliah meski segala fasilitas telah dipenuhi oranngtua. Kenyamanan adalah inti dari lentera jiwa. Menemukan apa yang kita cari dan senangi ternyata lebih berharga daripada menjadi seseorang yang lain dan berbeda dari personal kita sebenarnya. Hidup dalam topeng, kepalsuan, tersiksa dalam segala pilihan.
Maka berbahagialah orang-orang yang menjalani hidupnya dengan menjadi dirinya sendiri. Yang punya ide sendiri tentang apa yang ia sukai dan ia maui. Jauh dari kata material dan terkurasnya tenaga. Bahagialah orang-orang yang menjadi dirinya sendiri, bukan menjadi orang yang hidup dalam kehidupan orang lain seperti kata Steve Jobs :
"Your time is limited, so don't waste it by living someone else's life" –
Menemukan lentera jiwa seperti menemukan sesuatu yang kita menjadi bersemangat melakukannya. Ada gairah disana untuk melakukannya. Sesuatu yang menyenangkan bagi kita dan bukan suatu keterpaksaan. Meski kita terkuras tenaganya tapi tetap menyukai untuk melakukannya.
Dan percayalah tiap kita punya lentera jiwa, namun kadang kita tak sadar bahwa apinya belum dinyalakan atau bahkan mungkin apinya masih redup. Maka ayo nyalakanlah apinya, biarkan benderang dan tak akan pernah redup.
Bagaimana dengan anda teman? Sudahkah menemukan lentera jiwa mu?
Atau jangan-jangan masih terjebak dengan kondisi no passion?
Sudahkah kita melakukan hal yang sesuai dengan Lentera Jiwa kita??
Karena Lentera Jiwa = Passion
Mari berbagi cerita disini
Wassalam




Ini kakiku mama..
Betapa sempurnanya ya ciptaan Tuhan.
Gambar ini saya dapat dari “pusing-pusing” di google. Lupa download dari mana, yang pasti Cuma pengen sharing…
Subhanallah…
Mengutuk hujan
Dia yang berlari di tengah kepungan mata air warna warni..
Untuk dia yang menyiratkan kelekangan akan waktu dan masa yang menjadi silam..
Untuk apa,? Tanya hujan pada malaikat..
Dia sedih, bukan berdialog dengan awan..
Biarkan saja dia mengantarkan lembaran bulir itu dalam penjara
Bertengger hina di hembusan aku dan keegoan.
Bukan-bukan dia yang ku mau.
Untuk cinta??
Bukan………
bagi ku malah celaka..
Dan jika engkau berterik untuk matahari dan menafkahi tanah ini dengan rela
Kenapa aku harus bersusah-susah mengalirkan seribu kata-kata?
Dan seolah angin mengantarkan jawaban untuknya:
Tidak anakku,
Kita tidaklah berseteru......
Kiat hanya berada di persimpangan dua paham atas satu objek
Saat kau beranggap nestapa
Bisakah kau meluruhkan saja sedikit harimu untuk sekedar turun dari singgasana mu dan
tanyakan:
Dan nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan???
Percayalah kau tak akan bisa menjadi sang Maha.
Kau hanya punya sejuta kata-kata tapi tak akan pernah punya kuasa
Percayalah….
Wassalam
11:58 | Tajuk Puisi |
HUH...
Huh…...
Sangat sulit untuk menulis.
Entah ini mungkin postingan pertama di tahun 2009 ini. Terlalu banyak kerjaan, terlalu banyak kegiatan,dan sedikitnya waktu istirahat menjadi seribu alasan untuk tidak menulis dan membiarkan blog ini terlantar.
Huh….
Hidup yang liar..
Terlalu sering padahal mencoba ingin menceritakan.sangat banyak cerita dan ide liar yang bergerak di otak, ingin ditumpahkan, tapi entah kenapa tangan ini malas untuk membantu bercerita.
Huh.............
Kenapa tahun baru menjadi sesuatu yang bergerak berbeda dalam dinasti pikiran ini?
Bukan bermaksud menyalahkan tapi dialog ini antara aku dan hatiku, menuliskan pergolakan ide yang tertentang kenyataan.
Huh……..
11:40 | Tajuk Celotehan |
Logika terbalik
Begini dosen tersebut menuliskan di papan tulis :
No Study = Fail
Awalnya sederhana menunjukkan teori yang secara logika ada benarnya (padahal belum tentu benar saat diaplikasikan).
Lanjut dengan upaya mensubtitusikan kedua hal yang kita anggap saja persamaan (1)dan (2) teersebut seperti ini
No Study = Fail
STUDY = FAIL
Jadi bagaimana nih???
Sekian

