Kesempatan

30 October 2013 § 0

Ada 2 ruang, masing masing penuh manusia
Dan lihatlah, di tiap ruang tersebut
Tiap orang berbicara tentang hilangnya kesempatan dan adanya kesempatan.
Mereka yang berbicara hilangnya kesempatan mengarahkan pada penyesalan
Kenapa tidak mengggunakan waktu yang ada…
Kenapa tidak bisa memanfaatkan waktu yang ada
Kenapa sulit untuk mengelola waktu yang tersedia.
Dan kenapa-kenapa lainnya yang intinya penyesalan
Hilangnya sebuah kesempatan,
Hilangnya sebuah peluang
Untuk menjadi lebih baik, atau bahkan mungkin sebaliknya

Di sekat ruang yang lain
Mereka berbicara dengan nada optimis, tentang kesempatan
Kesempatan ini bisa kita manfaatkan untuk blab la bla
Kesempatan ini bisa kita jadikan titik awal untuk blab la bla
Kesempatan ini adalah kemungkinan terbesar kita mencapai blab la bla…
Dan semua hal tentang peluang
Yang intinya optimism
Munculnya sebuah peluang
Timbulnya peristiwa, yang bisa jadi peristiwa baik,atau malah sebaiknya..

Kesempatan dan peluang adalah partikelnya waktu
Sedang hilang dan munculnya adalah kuasa Tuhan.
Maka wajar, jika Tuhan sampai bersumpah

“Demi Masa..”

Karena waktu, tidak bisa diulang,
Ia mengalir,menciptakan kesempatan dan peluang
Ia mengalun,memberikan penyesalan,atau kenangan manis di kemudian hari

Si “pengganggu” dari bangku deret kelima

§ 0


ternyata begitu berat
jalankan semua printahMu
bekerja dan terus bekerja
tak kenal lelah dan tak kenal waktu
gema adzan subuh, kami tidur terlelap
gema adzan dhuhur, kami sibuk bekerja
gema adzan ashar, kami geluti dunia
gema adzan magrib, kami diperjalanan
gema adzan isya’, lelah tubuhku Tuhan
tak pernah lagi, kubaca firman-Mu
pantaskah surga untukku ?
tak pantas aku di Surga-Mu
tak kuat aku di Neraka-Mu
berikan kami pentunjukmu
(lirik lagu Gema adzan -lagu yang sering dinyanyikan pengamen)

Terlalu lama juga saya ga memposting isi blog ini, bukan tak ada ide menulis,lebih tepatnya sih saya malas. Banyak ide menulis, namun semua buyar oleh kesibukan lain, kadang sempat berandai andai,ada mesin yang bisa menuliskan isi pikiran saat itu juga, mungkin saya akan membelinya,biar mudah.hehehe.

Aniwei pernah ketemu pengamen?
Ah pertanyaan basi ya, jelaslah pernah. Wong pengamen itu udah jadi bagian struktur masyarakat kok, selain pemulung dan peminta minta). Tulisan ini terinspirasi dari mereka, salah satu kaum marginal yang ada di kehidupan kita.
Mereka bisa darimana saja,dari kalangan apa saja,dan dari rentang umur berapa saja.

Ada yang wujudnya anak kecil. Di rumah saya,tiap siang ada anak kecil, mungkin sekitar 6 tahun umurnya), mengamen sekedarnya, sholawatan sekedarnya, setelah diberi uang ia pergi, sholawatnya ga selesai. Lain waktu ada beberapa anak kecil, nyanyinya sama, dan sama juga, setelah diberi uang,ia pergi, belum selesai sholawatnya.

Di deket lampu merah ada mereka, berwujud anak muda, ada yang perlente,ada yang dekil luar biasa. Ada yang hanya berbekal gitar, ada yang ditambahkan harmonica. Suaranya ada yang biasa, ada pula yang luar biasa. Ada yang ikhlas minta nya, ada yang sebaliknya…

Di atas bis, 
ehmm..ini ni yang mau saya perbincangkan…
Diatas bis mereka umumnya berada di posisi tengah bis, yaitu deretan bangku nomor 5 atau 6 (kalo jenis bis yang besar ya). Jadi jika anda  naik bis kota dan berada dalam posisi sangat lelah dari bepergian atau bekerja, say sarankan hindari duduk di deretan bangku 4 dan 5 jika tak mau terganggu oleh suara nyanyian mereka.
Untuk pengamen di bis ini saya membaginya menjadi 2 jenis pengamen yang saya amati,ada yang pengamen yang levelnya angkot (artinya ni pengamen sebenernya biasanya jamak ditemui ngamen di lampu merah atau angkot, pokoknya ga cocok untuk di bis deh), ada lagi yang level nya level bis beneran. Nah kalo yang level bis ini biasanya mereka kreatif, suaranya lumayan lho, dan tampilannya oke oke.

Pernah saya temui dalam perjalanan Bogor-Jakarta beberapa tahun lalu,pengamen wanita bersama bapaknya (semoga tebakan saya benar), suaranya bagus banget, penampilannya pokoknya oke banget, dan sempet mikir, ini pengamen beneran apa mahasiswi yang lagi “uji nyali” dengan tampil di muka umum ya.hehehe. Sempat beberapa minggu saya menikmati suaranya.
Ada lagi pengamen yang dari tampilan luarnya sudah seperti anak band yang turun ke bis untuk mentas. Gayanya sangat atraktif, tampilannya sangat menarik,suaranya bagus, pokoknya sangat komunikatif. Pokoknya tiap dia naik bis,ada satu lagu yang jadi favorit saya, soalnya dia menyanyikannya dengan gaya hiphop,diselingi rap, dan meng tap gitarnya sekaligus. Sampai sekarang pun saya penasaran itu lagu buatan dia sendiri atau bukan, soalnya saya cari di google dengan kata kunci lirik yang sempat saya ingat tidak ditemukan juga.
Nah sepertinya pengamen bis juga belajar banyak tentang psikologi penumpangnya, sepertinya mereka tau kondisi apa yang cocok dengan lagu apa,misalkan saja ya, saat pagi hari menjelang berangkat kerja, lagu yang mereka pilih adalah lagu bertema semangat atau lagu lagu mendayu dayu. Kemudian siang harinya,umumnya mereka memilih lagu yang bertempo cepat, kemudian malamnya mereka memilih lagu bertempo lambat,umumnya adalah lagu lagu jaman dulu yang ngehits.
 
Bagi saya sendiri,  mereka, para pengamen itu  “pengganggu”.
Ya pengganggu yang baik, makanya saya menuliskannya dalam tanda kutip,setidaknya kalo saya lagi tidak berada dekat deret kursi penumpang nomor lima, suaranya kan jadi sayup sayup, apalagi kalo lelah, seperti pengantar tidur bagi saya. Kalo kebagian dekat tempat mereka “mentas”, ya saya jujur, sering menikmati lagu yang mereka nyanyikan, karena kebanyakan mereka memang bagus suaranya (setidaknya dibanding saya)

Dan jika ingin memastikan apakah benar tulisan saya ini,silakan naik bis kotanya, dan nikmati perjalanannya.. syukur syukur ketemu mereka,pengamen di bis kota. 

Si “pengganggu” dari deret kursi nomor lima


 

UN : Ujiannya Ngeri

18 April 2013 § 0

"Harapan saya enggak ada UN. Bikin stres. Ya orang kan mesti dihitung disiplinnya, bukan cuma dari UN. Orang mesti dilihat prosesnya. Kalau sistem pendidikan yang baik itu prosesnya, bukan hasilnya," tegas Ahok, di Balai Kota Jakarta, Senin (15/4/2013).

Heran,semakin maju zaman,semakin canggih teknologi,semakin mudah manusia, eh malah kok kayaknya makin ngeri ya..

Berita tentang carut marutnya Ujian Nasional menghiasi timeline,new status dan headline di media yang sayabaca. Mulai dari penundaan Un di 11 provinsi sampe acara acara istigosah dan sampai hal hal klenik seperti menjampi jampi pensil ujian yang akan digunakan. Kondisi apa ini?

Kok kayaknya jaman saya EBTANAS dulu ga seheboh ini deh

Itu cuplikan status saya di FB beberapa waktu lalu. Mekanisme UN seyogyanya adalah mekanisme pendidikan, dimana di dalamnya ada manajemen pelaksanaan dan ada konsep standarisasi dan evaluasi, dan 2 poin ini yang menurut saya berkontribusi besar menyebabkan UN kali ini nge hits banget.

Manajemen Pelaksanaan
UN sebagai sebuah sarana penguji bagi siswa seharusnya dilaksanakan secara profesional dan terencana. Keterlambatan soal ujian dan penundaan ujian di beberapa provinsi merupakan cerminan buruknya metode pelaksanaan Ujian yang sifatnya Nasional ini. Perlu kita pahami, tidak usah lah memandang dari segi ujiannya, wong dari kondisi biasanya saja, untuk wilayah wilayah yang terpencil itu sudah diketahui sulit dijangkau dari segi transportasi, lha kenapa ga coba mendahulukan distribusi soal UN ke wilayah itu dulu. Prioritaskan mereka baru wilayah yang lebih mudah dijangkau, jadi distribusi soal ga kacau seperti ini dan UN ga ada ceritanya ditunda kayak sekarang,Selain itu apa ga dibentuk satgas yang mengkoordinir wilayah wilayah pendistribusian UN ya, toh menurut saya jaman sekarang ga ada hambatan lagi bagi distribusi UN kecuali manajemen pelaksanaannya yang kacau balau.

Jaman sekarang teknologi komunikasi sudah berkembang pesat, teknologi transportasi sudah maju sekali namun kenapa ada keterlambatan?

Alat seperti mesin mesin dan kendaraan hanya bersifat tool yang membantu manusia, sedangkan jika factor manusianya sendiri tidak bisa memanfaatkannya ya tetap saja hasilnya kacau balau kan.

Evaluasi plus Standarisasi
Masih ingat saya beberapa waktu lalu tentang pro kontra UN, yang intinya “lakukan atau hapuskan UN”. Saya sendiri berpendapat bahwa UN itu perlu tapi harus dimodifikasi. Dalam artian UN boleh saja dijadikan tolak ukur evaluasi tapi bagi saya pribadi tidak usah dijadikan alat untuk menstandarisasi. Dalam faktanya sekarang UN menjadi alat standarisasi , jika tidak lulus UN maka siswa tersebut tidak cerdas, dan begitu sebaliknya.

Akibatnya banyak hal hal yang berbeda dengan jaman dulu, jadi ga aneh sekarang saya liat berita ada sekolah yang siswa nya melakukan istigosah trus doa bersama menjelang UN bahkan hal hal klenik kayak jampi jampi,mandi kembang,hingga diruwat muncul menjelang UN ini.

Kemunduran moralkah, hingga terjadi seperti ini,atau phobia berlebihan sehingga terjadi seperti ini?

Konsep pendidikan adalah mengembangkan potensi anak secara maksimal, dan medianya adalah dengan dididik oleh mereka yang disebut pengajar atau guru. UN sebaiknya digunakan sebagai alat evaluasi prose pendidikan yang terjadi selama ini sehingga bisa dilakukan perbaikan.

Perlu diperhatikan pula potensi tiap siswa itu berbeda, mereka yang nilainya jelek secara akademik bukan berart mereka tidak cerdas, karena bisa jadi ia lebih pintar di bidang lain. Seorang anaka yang nilai Matematika dan Fisika nya sellau 3 bisa jadi memiliki nilai 10 di bidang menari, dan ini yang arus kita pahami sebagai potensi. Pendidikan sejatinya tidak mengenal kategori, karena dasarnya sudah jelas, tipa orang memiliki potensi yang berbeda. Dan disini peran pendidikan itu.

Fakta sekarang adalah, siswa “dipaksa” belajar untuk beberapa mata ujian (yang bisa jadi bukan potensi tertingginya),kemudian diujikan selama 3-5 hari dan kemudian menunggu hasil nya. Muncul cap “lulus ujian” dan “tidak lulus ujian”. Dan akibatnya semua pihakmenjadi panic luar biasa, si anak sibuk les sana sini demi menambah pengetahuannya, ortu sibuk dan ketar ketir saat hasil try out anaknya ga memuaskan, dan guru juga was was khawatir anak didiknya ga lulus UN.

Kenapa ga kita coba dari konsep dasar pendidikan itu saja, buat UN sebagai alat evaluasi tapi jangan standarisasi.Jadi tidak menjadikan patokan hasil UN untuk masuk ke jenjang selanjutnya. Posisikan saja UN sebagai alat evaluasi bahwa anak didik ini lemah di mata uji ini, dan kuat di mata uji ini,sehingga anak didik tidak menjadi tertekan.

 Ini sih sekedar usul saja tapi bagi saya, saya pribadi setuju dengan pendapat Ahok (wakil gubernur Jakarta), pendidikan itu hendaknya dilihat dari proses bukan hasil akhir. Proses yang baik akan menghasilkan ouput yang baik (insya allah). Dengan memfokuskan pada proses pendidikannya, maka semua pihak baik guru, ortu dan siswa nya senidri bisa lebih nyaman melaksanakannya. Pemerintah, harusnya memfasilitasi saja proses ini, sediakan system pendidikan yang layak,ruang kelas yang nyaman, sarana pendukung yang update, dan kualitas guru yang meningkat.

Saya pribadi berpendapat bahwa setiap orang punya potensi masing masing, dan kecerdasannya tidak bisa digeneralisir. Dan adalah tugas guru dari masing masing siswa yang harus mengembangkan potensi anak didiknya.Biarkan guru sebagai si pendidik yang melakukan proses mengembangkan potensi bagi si anak didiknya, Biarkan proses terjadi dan liat hasilnya. UN boleh saja diadakan,tapi jangan jadi patokan utama bagi kualitas pendidikan masing-masing siswa, apalagi jadi alat ukur untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, bisa salah kaprah jadinya.

Ah Andai Saja

22 February 2013 Comments Off


Setelah jumat
Uang seorang Jamaah jumat jatuh di sajadah orang di belakangnya, dan yang di belakangnya, menyodorkan uang tersebut ke si empunya.
Tanpa kata,hanya senyum yang berbalas, dan mungkin ucapan terima kasih dalam hati.
Dan itu ikhlas yang terperi.
Tadi saat Salat Jumat di masjid dekat kantor saya, sebuah kejadian menarik yang mencetuskan ide nulis ini.
Selembar uang dua puluh ribu rupiah berada di depan sajadah jamaah yang duduk di deretan saya,tanpa banyak bicara dia menggunakan bahasa isyarat seolah olah menanyakan jamaah kiri kanannya “apakah ini uang anda?”.
Dan jamaah dekatnya menggoyangkan tangannya tanda bahwa bukan uangnya sembari mengarahkan telunjuk tangannya ke jamaah depannya.
uang dia mungkin” sepertinya itu arti telunjuk tersebut.
Dan jamaah yang menemukan uang tersebut kemudian seolah mengiyakan petunjuk itu mencolek jamaah depannya dengan menggunakan bahasa isyarat yg sama “apakah ini uang anda?”.
Dan jamaah depannya seolah mengiyakan dan mengambil uluran tangan dari jamaah yg menemukan uang tersebut seraya tersenyum.
Ucapan terima kasih tampaknya.

Sebuah kejadian simple tapi berkesan bagi saya.
Sebuah tempat suci, masjid namanya, dan kemuliaan tempat itu membuat orang orang yang disana menjadi lebih mulia.
Kita ga pernah tahu apakah kejadian seperti tadi bisa terjadi di luar masjid. Maksud saya, andai saja kejadian seperti tadi tidak hanya terjadi di masjid. Sungguh mulia bangsa ini.
Bayangkan saja jika mereka yang menemukan sesuatu yang bukan haknya( seperti uang jamaah tadi) berani mengembalikan ke pada yang berhak, apakah tidak mulia bangsa ini.
Tidak akan sengsara masyarakat karena tidak ada yang berani mengambil hak orang lain
Tidak akan terpuruk bangsa ini karena tidak ada yang berani menyerobot hak orang lain.

Apakah karena masjid adalah tempat mulia, area dimana Habluminallah adalah segalanya, sehingga manusia lebih menjadi bijak dan bertindak mulia, tidak berani mengambil yang bukan haknya?
(Bisa saja kan si jamaah tadi masukkan uangnya ke kantongnya dan seolah olah itu uang pribadinya?)

Whoaaaa melihat kejadian tadi saya berandai andai coba kejadian sperti itu ga cuma terjadi di mesjid dan ga cuma terjadi dalam skala kecil pasti Indonesia bisa lebih sejahtera dan makmur secara merata.
Karena sejujurnya kita butuh kejujuran seperti itu, kejujuran yang mencerahkan bagi kita semua.
Kalo saja kejadian itu terjadi dalam skala lebih besar dan tidak terjadi saat di rumah ibadah saja,
Mungkin
Indonesia sudah menjadi bangsa yang  lebih mulia.
Halah…
Lupakan saja racauan saya ini, saya tetap harus melihat realita bukan perandaian kan. 




Salaam salaam...