Menulis itu.....hmmmm

21 October 2014 § 0

Sudah ga liat lagi kapan blog ini terakhir memposting tulisan,sudah nyaris lupa bagaimana menulis,kadang ingat kemudian mentok di satu paragraf...hahaha..pingin ketawa saat ingat pernah baca sebuah buku judulnya "menulis itu mudah" dan sekarang terbukti emang mudah,cuma yang menulisnya aja yang susah untuk diajak nulis....*mukatepar.

Padahal ada lho temen yang coba konsisten dengan metode yang niru niru one day one juz nya grup pengajian,namanya one day one posting..gile ndro..keren banget tu,pengen banget bisa kayak gitu,sayang gw terus terang ga bakal bisa kayaknya,soalnya kalo nulis pokok ide sih gampang,cuma nulis sampe ending itu yang susah...
Eh eh baidewei,ini tadinya cuma pgn bilang lagi susah banget nulis,kok jd panjang ya?
Baiklah,sudah dulu ya,ntar dibilang, "katanya susah nulis,lha ini malah nyerocos"..sebenernya ini karena lagi blm bs tidur aja makanya bisa nyerocos..

Gudnit..

Hegemoni

Comments Off

Come on Gigi and Rafi,semoga langgeng ya… *sok kenal




Hayuklah..
setelah Jumat saya terselamatkan dari nonton live nikahan seleb Indonesia ini yang konon katanya akhirnya stasiun tivi yang nayangin live akadnya  nya kena semprot KPI,akhirnya kena juga saya menyaksikan live resepsi nya di stasiun tipi lain. Baidewei katanya minggu depan yang di Bali juga mu diliput tipi lain lho (promosi,info atau sok tau whateverlah)...ini bukan emang fanbasenya lho ya cuma tiap buka detik dot com ada aja berita nih seleb, jadi mau gamau suka gasuka ya tetep aja kebaca, resiko pembaca segala ( enaknya disebut apa ya??? Bukuvora?artikelvora???)

Saya sih menganggap ini wajar.Ya maklum lah,ini selebriti emang munculnya ampir tiap hari di smua stasiun tivi,dan maklum juga kalo tipi tipi ini berlomba lomba rebutan hak siar eklusifnya buat acara nikahan,malam pertama,sampe resepsinya...eh ralat,nikahan sama resepsi aja,yg di tengah tadi mohon didelete dan jangan coba coba protes ke stasiun tipinya ya, soalnya emang ga disiarin kok... 

Kembali kesini,di tempat ini, beberapa puluh kilometer dari lokasi resepsi, sebuah peristiwa yang terkoneksi tidak langsung kesana, tidak melibatkan kedua mempelai, tapi melibatkan pihak lain
Dan dsini saya menyaksikan tingkah lain bagaimana perebutan hegemoni di tipi rumah saya berlangsung..

Sebentar sebentar,liat Igglepiggle beraksi berlarian di taman dalam In the night garden versi BBC di channel C-bebieesnya,eh ga lama kmudian mata saya ngeliat Jupe lagi ngewawancarai tamu yang dateng  di acara resepsinya yang ditayangin di RCTI.

Sebentar sebentar liat Upsy Daisy sedang memainkan terompetnya dan bernyanyi, dan anak saya berjoged kegirangan di depan tipi, ga sampe lima menit kemudian anak saya diam dan kemudian sang ibu berkomentar saat liat  para Pagar Ayu  diwawancarai oleh host yang berganti ganti di channel lain.

Ya ya saya disini berbicara tentang hegemoni, bagaimana saya menyaksikan perebutan kekuasaan atas nama hak channel tipi apa yang harusnya ditonton umat manusia di rumah ini.kalo meleng sedikit,siap siaplah berganti channel,dan jangan tanyakan saya memihak siapa,saya tidak bisa memihak siapapun karena ini menyangkut kekuasaan 2 kekuatan adidaya di rumah ini,anak saya dan emaknya....

Baidewei aniwei,karena saya cuma penonton,mu ngucapin aja semoga jadi keluarga  sakinah mawaddah warrahmah buat Gigi dan Rafi,smoga langgeng,jangan kayak selebriti lain yang nikah cerai cepet,sayang aja sama nikahan dan resepsinya gini yang diliput media mbombastis…. (muka bijak ).

Dan buat Igglepiggle, Upsy Daisy, Makka Pakka dan temen temen di In the Night Garden...selamat malam,selamat tidur..semuanya..bye…..
 

Waktu berjalan

23 July 2014 § 0

Hari ini,hari pertama saya mengantar anak saya ke sekolah.Belum sekolah formal sih,tepatnya semacam playgroup.Tapi ini tetap saja sebuah dunia baru bagi dia,sebuah langkah awal untuk dia mengenal sebuah dunia lain.Dunia lain di luar lingkungan rumahnya.dunia yang kelak bisa jadi menentukan kemana arah yang akan dia buat,apa yang akan dia lakukan,dan apa yang akan dia capai kelak.

Bukan sebuah kejutan sebenarnya,mengantar anak sekolah,mungkin lazim bagi mereka yang telah menjadi orangtua..ya setidaknya bagi mereka yang sudah menjadi orangtua.bukankah itu bagian dari tanggungjawabnya sebagai orangtua?

Memberikan yang terbaik yang bisa ia lakukan untuk anaknya.Meski kecil keliatannya.

Mungkin bagi sebagian ayah,ada yang menganggap mengantar anak ke sekolahnya pertama kali bukan sesuatu yang penting,bahkan ada juga yang menganggap itu adalah tugas sang ibu. Saya pribadi lebih menganggap berpulang dari siapa yang wajib melakanakan itu,saya memilih untuk meluangkan waktu saya untuk itu.Setidaknya biarkan anak saya mencatat dalam memorinya kelak,dia adalah nomor satu bagi saya,bukan pekerjaan saya.

Dan karena itu hari ini saya bergabung dengan beberapa orangtua,mengantar anaknya ke sekolah untuk pertama kalinya.mayoritas adalah ibu ibu,sisanya adalah nenek si anak,dan hanya beberapa pasangan suami istri yang datang seperti saya dan istri,tidak cukup jari tangan kanan saya menghitungnya...

Selamat bermain Gibran.kenali duniamu,dan jadikan karakter kebaikan yang diajarkan gurumu sebagai bekalmu menjadi manusia yang lebih baik.

Love u my boy..


(ditulis minggu kemarin, dan diposting baru sekarang)

Tentang Laki Laki itu....

24 June 2014 § 0


“ dan setelah Muhammad,engkaulah pria segalanya bagi saya—Papa__”

Dan tersebutlah sebuah hadist bagaimana mulianya seorang ibu sehingga Nabi Muhammad menyebutkannya sampaii 3 kali saat seseorang menanyakannya siapa yang patut dimulyakan olehnya. Dan jatah bapak cuma kebagian di sebutan ke 4…. Jangan tanyakan pada semua anak di dunia ini,betapa berharganya ibu bagi mereka, dan saya sendiri menganggapnya wajar kenapa sampai 3 kali Nabi menyebut kata “ummi” sebagai gambaran kemuliaannya. Dan dalam posisi ini, saya ga mau cemburu pada kalian wahai wanita, wong saya sadar diri kok, udah ga bisa hamil, ga bisa menyusui, ga bisa pula melahirkan J

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah postingan sederhana di fesbuk, sebuah postingan tentang kekaguman dan kebanggaan menjadi ayah,  dan mungkin ini yang dirasakan oleh mayoritas mereka yang menjadi ayah.

Pernahkah kamu merasa sangat dekat dengan ayahmu???
Pernahkah kamu merekam, momen momen dari ayahmu yang menjadikanmu seperti ini??

Dulu waktu kecil, saya melihat ayah dan anak hanyalah  hubungan biasa, sebuah kodrat alamiah dari sebuah siklus kehidupan. Namun saat menjadi ayah dari seorang anak (yaiyalah masak dari ayah dari sebotol guci).

Saya tumbuh dan besar dengan ada ayah saya disamping saya, dia mengajari saya segalanya, memancing, bermain layang layang, bulutangkis, dans egala lainnya dan beliaulah yang “meracuni” saya dengan buku buku sastra dan majalah sejenis Horizon (ini yang mungkin mempengaruhi kebiasaan saya dalam menulis).

Banyak kebiasaan beliau semenjak saya kecil yang hingga sekarang membuat saya mengucap “terimakasih telah menjadi ayah terbaik bagi saya, dan sebuah kebanggaan menjadi anak dari anda”.

Beliau adalah seorang guru, di sebuah sekolah yang jauh dari rumah, berbekal motor tua,ia menempuh perjalanan mulai jam 6 pagi, setiap hari dan kembali ke rumah sekitar jam 1 siang. Dan (kagumnya saya) ia tidak mau kalo ga masuk kerja hanya karena alasan sepele. Sebuah konsistensi  puluhan tahun hingga sekarang yang membuat saya malu. Ya malu, malu karena dibandingkan beliau, penghasilan saya (Alhamdulillah) lebih besar tapi tetap saja masih mengeluh karena pekerjaan saya.karena rutinitas saya.

Hal lain yang saya ingat adalah kesetiaannya pada kejujuran. Saya ingat waktu itu, saat hari hari mendekati kenaikan kelas atau pembagian raport, selalu saja ada orangtua murid yang datang ke rumah untuk bertamu (ya mosok  ke rumah mau mancing), kadang yang menerima adalah ibu saya, saya sih hanya melihat saja, sambil menonton tipi, Dan biasanya setelah mereka pulang, umumnya ada saja buah tangan yang tersuguh di meja tamu.
Saya pernah iseng nanya ke ibu saya tentang siapa mereka

Saya: itu tadi siapa ma??
Ibu saya : owh itu orangtua muridnya  papa
Saya : loh ngapain ma jauh jauh kesini??
Ibu saya : itu, mereka minta anaknya dinaikin kelasnya , kan papa wali kelasnya..
Saya : hooo…

Dan di kemudian hari saya baru tau itu adalah prosedur standar dari orangtua saya,tepatnya ayah saya, jika ada orangtua murid yang datang ke rumah maka yang menemui adalah ibu saya, karena mereka yang datang ke rumah itu,biasanya adalah orangtua murid yang bermasalah, dan ayah saya tidak  mau memaksakan naik kelas,mereka yang memang tidak layak untuk naik kelas, meski disguhi dengan beberapa kaleng Khong Guan.

Mungkin bagi mereka berdua (orangtua saya), hal hal ini mereka lupa, tapi bagi saya, sebuah pelajaran hidup yang luar biasa, dan saya masih mengingatnya sampai kini.


Dan beberapa tahun kemudian, suatu ketika, terbetik di otak saya, saat saya sudah berstatus seorang ayah dari seorang bayi yang luar biasa lincahnya

“,pernahkan terpikir olehmu momen apa yang terindah bagi ayahmu dulu saat memiliki kamu??”

Nah kan, akhirnya..selama ini saya berbicara dan memandang dari sudut pandang anak, sekarang,saya harus berpikir dari sudut pandang ayah..

Setelah punya anak, saya  meerasa dari sejak Gibran lahir ampe detik ini, semua momen yang terjadi selalu indah, mulai dari guling guling, tengkurap, belajar makan, belajar berdiri, belajar ngobrol, sampe sekarang dah kayak bola karet bagi saya ya mengagumkan …subhanallah, its so beautiful..

Mungkin ayah saya dulu saat menikmati momen momen menjadi bapak muda nya  punya perasaan yang sama seperti saya, atau mungkin juga tidak  sama persisi seperti saya antusiasnya, tapi yang pasti saya merasakan bahwa menjadi ayah, adalah sebuah keberkahan luar biasa.

Melihat Gibran,seperti saya memandangi cermin yang bisa mengantar kita ke masa lalu,bagaimana waktu saya kecil mungkin ayah saya memandangi saya seperti itu. Penuh kasih sayang,penuh cinta, sebuah rasa yang ayah dan ibu saya berikan kepada saya dan kedua adik saya secara cuma cuma.

Menjadi seorang ayah, menjadikan saya tau bagaimana sayangnya orangtua kita kepada anaknya. Menjadi orangtua menjadikan saya menyesali momen momen bandel saya kepada orangtua saya.
Menjadi seorang ayah menjadikan saya tau,betapa besarnya  kebaikan yang diberikan mereka berdua,sejak saya baru lahir  hingga detik ini

Menjadi seorang ayah menjadikan saya tau betapa saya harus lebih peduli pada orangtua. Meskipun dibeberapa titik ada ketidaksesuain dengan mereka, tetap saja, mereka orangtua saya, dan saya ingin menjaga mereka hingga saya tak sanggup lagi berdiri. Saya ingin seperti mereka yang mencintai orangtua mereka sampai mereka tua.

Saat nenek (dari pihak ibu) masuk rumah sakit dan akhirnya meninggal, ibu saya menginap di rumah sakit setiap hari. Ia melakukan segalanya untuk ibunya (nenek-red), mulai dari berdoa, sampai menuntunnya ke kamar mandi, dan saya dari sebrang pulau mendengarkan ceritanya lewat telepon. Dan meski pada akhirnya nenek tak bisa terselamatkan, beliau meninggal dunia. Namun setidaknya ibu saya berucap sudah ikhlas karena sudah melakukan segalanya yang terbaik yang bisa ia lakukan untuk ibunya untuk terakhir kalinya.
Dan saya mau seperti itu, melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan,ga cuma untuk ibu saya, tapi juga untuk beliau..

Iya beliau…
Beliau yang setelah Nabi Muhammad, saya mengidolakannya luar biasa,
Ayah saya



Cuplikan:
Kemarin malam saya telpon ke rumah, yang menerima adalah  ayah saya. Terus terang sebuah kekakuan sebenarnya untuk ngobrol berdua saja. Tepatnya kikuk kali ya,..Entah kenapa, apakah antara anak  laki laki dan ayah nya  tu kayak gitu ya  Soalnya kalo nelpon, biasanya yang menerima adalah ibu saya, dan jika ayah saya yang menerima telponnya paling sapaan “ apa kabar pa, lagi ngapain?” adalah sebuah pertanyaan standar yang kemudian dijawab oleh beliau dan kemudian dialihkan langsung ke ibu saya…

Tapi kali ini lain, kami ngobrol agak lama, tentang pekerjaan saya, tentang tingkah laku cucunya, dan hal hal kecil lainnya mulai dari seringnya mati listrik disana dan bakal milih siapa di Pilpres ntar. Bahkan kondisi jalan lintas Sumatra yang katanya sekarang jadi bagus dan layak dilewati. Dan setelah ngobrol cukup lama akhirnya sampai juga di percakapan terakhir antara kami.

“ pa doain ya”…
“iya”….jawab beliau

Dan terus terang saya rindu untuk kembali ke masa itu, masa kecil saya.
Jam 1 siang hari, saya menunggu di depan rumah, menunggu beliau pulang dengan motor nya. Raut muka lelah bekerja, masuk ke halaman rumah menghampiri saya.
Dan kemudian beliau menarik sesuatu dari belakang punggungnya..
Sebuah koran bertanggal hari ini…dan menyodorkannya kepada saya,untuk dibaca..












Jangan Taklid Buta dong!!!

§ 1


Saya punya teman di fesbuk, yang kekeuhnya setengah mati membela salah satu calon presiden yang diusung partai pujaannya. Ya bisa disebut dia simpatisan (soale setau saya dia bukan kader). Yang saya miris adalah setiap kejelekan atau berita apapun yang menyangkut kandidat presiden lain, maka dia akan menshare nya ke  jaringan social media nya. Entah itu fesbuk, twitter, atau apalah lainnya. Dan begitu juga saat info baik dari capres pilihannya muncul,dia akan menshare nya pula.

Dalam hati saya berpikir, apakah tidak bisa kita menjadi muslim yang baik, yang bertabayyun dan berbaik sangka kepada orang lain?
Bukankah nabi sendiri mengajarkan kita berbuat baiklah kepada orang lain meskipun ia bukan muslim, kecuali terkait dengan ajaran ketauhidan?
Saya jadi mikir sendiri, kedua kandidat capres adalah orang Islam, kemudian saya menshare berita yang saya sendiri ga jelas tau itu berita benar atau salah, dan jika di kemudian hari ternyata itu berita yang saya share adalah salah,apakah saya ga malu sudah ikut dalam fitnah berjamaah ini?

Saya pribadi berpikir, silakan cermati saja info yang ada, jangan coba menshare berita dari media dunia maya, meskipun berlabel islam, karena saya pernah inget suatu hal yang saya lupa ngutip dimana, saat kita menceritakan keburukan orang lain, jika itu benar beritanya maka kita termasuk orang yang bergunjing (ghibah) dan jika ternyata berita itu salah, maka kita termasuk dalam golongan orang yang memfitnah..

Come on teman teman, jadilah dewasa, jangan semangat keislaman anda malah dijadikan alat oleh syaitan untuk membuat anda menebar fitnah menciptakan gunjingan.
Karena setan tentu sudah berpikir, ghirah keislaman, jika berlebihan bisa menjadi dosa bagi mereka yang justru mengaku muslim.

--sekian--