Waktu berjalan

23 July 2014 § 0

Hari ini,hari pertama saya mengantar anak saya ke sekolah.Belum sekolah formal sih,tepatnya semacam playgroup.Tapi ini tetap saja sebuah dunia baru bagi dia,sebuah langkah awal untuk dia mengenal sebuah dunia lain.Dunia lain di luar lingkungan rumahnya.dunia yang kelak bisa jadi menentukan kemana arah yang akan dia buat,apa yang akan dia lakukan,dan apa yang akan dia capai kelak.

Bukan sebuah kejutan sebenarnya,mengantar anak sekolah,mungkin lazim bagi mereka yang telah menjadi orangtua..ya setidaknya bagi mereka yang sudah menjadi orangtua.bukankah itu bagian dari tanggungjawabnya sebagai orangtua?

Memberikan yang terbaik yang bisa ia lakukan untuk anaknya.Meski kecil keliatannya.

Mungkin bagi sebagian ayah,ada yang menganggap mengantar anak ke sekolahnya pertama kali bukan sesuatu yang penting,bahkan ada juga yang menganggap itu adalah tugas sang ibu. Saya pribadi lebih menganggap berpulang dari siapa yang wajib melakanakan itu,saya memilih untuk meluangkan waktu saya untuk itu.Setidaknya biarkan anak saya mencatat dalam memorinya kelak,dia adalah nomor satu bagi saya,bukan pekerjaan saya.

Dan karena itu hari ini saya bergabung dengan beberapa orangtua,mengantar anaknya ke sekolah untuk pertama kalinya.mayoritas adalah ibu ibu,sisanya adalah nenek si anak,dan hanya beberapa pasangan suami istri yang datang seperti saya dan istri,tidak cukup jari tangan kanan saya menghitungnya...

Selamat bermain Gibran.kenali duniamu,dan jadikan karakter kebaikan yang diajarkan gurumu sebagai bekalmu menjadi manusia yang lebih baik.

Love u my boy..


(ditulis minggu kemarin, dan diposting baru sekarang)

Tentang Laki Laki itu....

24 June 2014 § 0


“ dan setelah Muhammad,engkaulah pria segalanya bagi saya—Papa__”

Dan tersebutlah sebuah hadist bagaimana mulianya seorang ibu sehingga Nabi Muhammad menyebutkannya sampaii 3 kali saat seseorang menanyakannya siapa yang patut dimulyakan olehnya. Dan jatah bapak cuma kebagian di sebutan ke 4…. Jangan tanyakan pada semua anak di dunia ini,betapa berharganya ibu bagi mereka, dan saya sendiri menganggapnya wajar kenapa sampai 3 kali Nabi menyebut kata “ummi” sebagai gambaran kemuliaannya. Dan dalam posisi ini, saya ga mau cemburu pada kalian wahai wanita, wong saya sadar diri kok, udah ga bisa hamil, ga bisa menyusui, ga bisa pula melahirkan J

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah postingan sederhana di fesbuk, sebuah postingan tentang kekaguman dan kebanggaan menjadi ayah,  dan mungkin ini yang dirasakan oleh mayoritas mereka yang menjadi ayah.

Pernahkah kamu merasa sangat dekat dengan ayahmu???
Pernahkah kamu merekam, momen momen dari ayahmu yang menjadikanmu seperti ini??

Dulu waktu kecil, saya melihat ayah dan anak hanyalah  hubungan biasa, sebuah kodrat alamiah dari sebuah siklus kehidupan. Namun saat menjadi ayah dari seorang anak (yaiyalah masak dari ayah dari sebotol guci).

Saya tumbuh dan besar dengan ada ayah saya disamping saya, dia mengajari saya segalanya, memancing, bermain layang layang, bulutangkis, dans egala lainnya dan beliaulah yang “meracuni” saya dengan buku buku sastra dan majalah sejenis Horizon (ini yang mungkin mempengaruhi kebiasaan saya dalam menulis).

Banyak kebiasaan beliau semenjak saya kecil yang hingga sekarang membuat saya mengucap “terimakasih telah menjadi ayah terbaik bagi saya, dan sebuah kebanggaan menjadi anak dari anda”.

Beliau adalah seorang guru, di sebuah sekolah yang jauh dari rumah, berbekal motor tua,ia menempuh perjalanan mulai jam 6 pagi, setiap hari dan kembali ke rumah sekitar jam 1 siang. Dan (kagumnya saya) ia tidak mau kalo ga masuk kerja hanya karena alasan sepele. Sebuah konsistensi  puluhan tahun hingga sekarang yang membuat saya malu. Ya malu, malu karena dibandingkan beliau, penghasilan saya (Alhamdulillah) lebih besar tapi tetap saja masih mengeluh karena pekerjaan saya.karena rutinitas saya.

Hal lain yang saya ingat adalah kesetiaannya pada kejujuran. Saya ingat waktu itu, saat hari hari mendekati kenaikan kelas atau pembagian raport, selalu saja ada orangtua murid yang datang ke rumah untuk bertamu (ya mosok  ke rumah mau mancing), kadang yang menerima adalah ibu saya, saya sih hanya melihat saja, sambil menonton tipi, Dan biasanya setelah mereka pulang, umumnya ada saja buah tangan yang tersuguh di meja tamu.
Saya pernah iseng nanya ke ibu saya tentang siapa mereka

Saya: itu tadi siapa ma??
Ibu saya : owh itu orangtua muridnya  papa
Saya : loh ngapain ma jauh jauh kesini??
Ibu saya : itu, mereka minta anaknya dinaikin kelasnya , kan papa wali kelasnya..
Saya : hooo…

Dan di kemudian hari saya baru tau itu adalah prosedur standar dari orangtua saya,tepatnya ayah saya, jika ada orangtua murid yang datang ke rumah maka yang menemui adalah ibu saya, karena mereka yang datang ke rumah itu,biasanya adalah orangtua murid yang bermasalah, dan ayah saya tidak  mau memaksakan naik kelas,mereka yang memang tidak layak untuk naik kelas, meski disguhi dengan beberapa kaleng Khong Guan.

Mungkin bagi mereka berdua (orangtua saya), hal hal ini mereka lupa, tapi bagi saya, sebuah pelajaran hidup yang luar biasa, dan saya masih mengingatnya sampai kini.


Dan beberapa tahun kemudian, suatu ketika, terbetik di otak saya, saat saya sudah berstatus seorang ayah dari seorang bayi yang luar biasa lincahnya

“,pernahkan terpikir olehmu momen apa yang terindah bagi ayahmu dulu saat memiliki kamu??”

Nah kan, akhirnya..selama ini saya berbicara dan memandang dari sudut pandang anak, sekarang,saya harus berpikir dari sudut pandang ayah..

Setelah punya anak, saya  meerasa dari sejak Gibran lahir ampe detik ini, semua momen yang terjadi selalu indah, mulai dari guling guling, tengkurap, belajar makan, belajar berdiri, belajar ngobrol, sampe sekarang dah kayak bola karet bagi saya ya mengagumkan …subhanallah, its so beautiful..

Mungkin ayah saya dulu saat menikmati momen momen menjadi bapak muda nya  punya perasaan yang sama seperti saya, atau mungkin juga tidak  sama persisi seperti saya antusiasnya, tapi yang pasti saya merasakan bahwa menjadi ayah, adalah sebuah keberkahan luar biasa.

Melihat Gibran,seperti saya memandangi cermin yang bisa mengantar kita ke masa lalu,bagaimana waktu saya kecil mungkin ayah saya memandangi saya seperti itu. Penuh kasih sayang,penuh cinta, sebuah rasa yang ayah dan ibu saya berikan kepada saya dan kedua adik saya secara cuma cuma.

Menjadi seorang ayah, menjadikan saya tau bagaimana sayangnya orangtua kita kepada anaknya. Menjadi orangtua menjadikan saya menyesali momen momen bandel saya kepada orangtua saya.
Menjadi seorang ayah menjadikan saya tau,betapa besarnya  kebaikan yang diberikan mereka berdua,sejak saya baru lahir  hingga detik ini

Menjadi seorang ayah menjadikan saya tau betapa saya harus lebih peduli pada orangtua. Meskipun dibeberapa titik ada ketidaksesuain dengan mereka, tetap saja, mereka orangtua saya, dan saya ingin menjaga mereka hingga saya tak sanggup lagi berdiri. Saya ingin seperti mereka yang mencintai orangtua mereka sampai mereka tua.

Saat nenek (dari pihak ibu) masuk rumah sakit dan akhirnya meninggal, ibu saya menginap di rumah sakit setiap hari. Ia melakukan segalanya untuk ibunya (nenek-red), mulai dari berdoa, sampai menuntunnya ke kamar mandi, dan saya dari sebrang pulau mendengarkan ceritanya lewat telepon. Dan meski pada akhirnya nenek tak bisa terselamatkan, beliau meninggal dunia. Namun setidaknya ibu saya berucap sudah ikhlas karena sudah melakukan segalanya yang terbaik yang bisa ia lakukan untuk ibunya untuk terakhir kalinya.
Dan saya mau seperti itu, melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan,ga cuma untuk ibu saya, tapi juga untuk beliau..

Iya beliau…
Beliau yang setelah Nabi Muhammad, saya mengidolakannya luar biasa,
Ayah saya



Cuplikan:
Kemarin malam saya telpon ke rumah, yang menerima adalah  ayah saya. Terus terang sebuah kekakuan sebenarnya untuk ngobrol berdua saja. Tepatnya kikuk kali ya,..Entah kenapa, apakah antara anak  laki laki dan ayah nya  tu kayak gitu ya  Soalnya kalo nelpon, biasanya yang menerima adalah ibu saya, dan jika ayah saya yang menerima telponnya paling sapaan “ apa kabar pa, lagi ngapain?” adalah sebuah pertanyaan standar yang kemudian dijawab oleh beliau dan kemudian dialihkan langsung ke ibu saya…

Tapi kali ini lain, kami ngobrol agak lama, tentang pekerjaan saya, tentang tingkah laku cucunya, dan hal hal kecil lainnya mulai dari seringnya mati listrik disana dan bakal milih siapa di Pilpres ntar. Bahkan kondisi jalan lintas Sumatra yang katanya sekarang jadi bagus dan layak dilewati. Dan setelah ngobrol cukup lama akhirnya sampai juga di percakapan terakhir antara kami.

“ pa doain ya”…
“iya”….jawab beliau

Dan terus terang saya rindu untuk kembali ke masa itu, masa kecil saya.
Jam 1 siang hari, saya menunggu di depan rumah, menunggu beliau pulang dengan motor nya. Raut muka lelah bekerja, masuk ke halaman rumah menghampiri saya.
Dan kemudian beliau menarik sesuatu dari belakang punggungnya..
Sebuah koran bertanggal hari ini…dan menyodorkannya kepada saya,untuk dibaca..












Jangan Taklid Buta dong!!!

§ 1


Saya punya teman di fesbuk, yang kekeuhnya setengah mati membela salah satu calon presiden yang diusung partai pujaannya. Ya bisa disebut dia simpatisan (soale setau saya dia bukan kader). Yang saya miris adalah setiap kejelekan atau berita apapun yang menyangkut kandidat presiden lain, maka dia akan menshare nya ke  jaringan social media nya. Entah itu fesbuk, twitter, atau apalah lainnya. Dan begitu juga saat info baik dari capres pilihannya muncul,dia akan menshare nya pula.

Dalam hati saya berpikir, apakah tidak bisa kita menjadi muslim yang baik, yang bertabayyun dan berbaik sangka kepada orang lain?
Bukankah nabi sendiri mengajarkan kita berbuat baiklah kepada orang lain meskipun ia bukan muslim, kecuali terkait dengan ajaran ketauhidan?
Saya jadi mikir sendiri, kedua kandidat capres adalah orang Islam, kemudian saya menshare berita yang saya sendiri ga jelas tau itu berita benar atau salah, dan jika di kemudian hari ternyata itu berita yang saya share adalah salah,apakah saya ga malu sudah ikut dalam fitnah berjamaah ini?

Saya pribadi berpikir, silakan cermati saja info yang ada, jangan coba menshare berita dari media dunia maya, meskipun berlabel islam, karena saya pernah inget suatu hal yang saya lupa ngutip dimana, saat kita menceritakan keburukan orang lain, jika itu benar beritanya maka kita termasuk orang yang bergunjing (ghibah) dan jika ternyata berita itu salah, maka kita termasuk dalam golongan orang yang memfitnah..

Come on teman teman, jadilah dewasa, jangan semangat keislaman anda malah dijadikan alat oleh syaitan untuk membuat anda menebar fitnah menciptakan gunjingan.
Karena setan tentu sudah berpikir, ghirah keislaman, jika berlebihan bisa menjadi dosa bagi mereka yang justru mengaku muslim.

--sekian--

Kesempatan

30 October 2013 § 1

Ada 2 ruang, masing masing penuh manusia
Dan lihatlah, di tiap ruang tersebut
Tiap orang berbicara tentang hilangnya kesempatan dan adanya kesempatan.
Mereka yang berbicara hilangnya kesempatan mengarahkan pada penyesalan
Kenapa tidak mengggunakan waktu yang ada…
Kenapa tidak bisa memanfaatkan waktu yang ada
Kenapa sulit untuk mengelola waktu yang tersedia.
Dan kenapa-kenapa lainnya yang intinya penyesalan
Hilangnya sebuah kesempatan,
Hilangnya sebuah peluang
Untuk menjadi lebih baik, atau bahkan mungkin sebaliknya

Di sekat ruang yang lain
Mereka berbicara dengan nada optimis, tentang kesempatan
Kesempatan ini bisa kita manfaatkan untuk blab la bla
Kesempatan ini bisa kita jadikan titik awal untuk blab la bla
Kesempatan ini adalah kemungkinan terbesar kita mencapai blab la bla…
Dan semua hal tentang peluang
Yang intinya optimism
Munculnya sebuah peluang
Timbulnya peristiwa, yang bisa jadi peristiwa baik,atau malah sebaiknya..

Kesempatan dan peluang adalah partikelnya waktu
Sedang hilang dan munculnya adalah kuasa Tuhan.
Maka wajar, jika Tuhan sampai bersumpah

“Demi Masa..”

Karena waktu, tidak bisa diulang,
Ia mengalir,menciptakan kesempatan dan peluang
Ia mengalun,memberikan penyesalan,atau kenangan manis di kemudian hari

Si “pengganggu” dari bangku deret kelima

§ 0


ternyata begitu berat
jalankan semua printahMu
bekerja dan terus bekerja
tak kenal lelah dan tak kenal waktu
gema adzan subuh, kami tidur terlelap
gema adzan dhuhur, kami sibuk bekerja
gema adzan ashar, kami geluti dunia
gema adzan magrib, kami diperjalanan
gema adzan isya’, lelah tubuhku Tuhan
tak pernah lagi, kubaca firman-Mu
pantaskah surga untukku ?
tak pantas aku di Surga-Mu
tak kuat aku di Neraka-Mu
berikan kami pentunjukmu
(lirik lagu Gema adzan -lagu yang sering dinyanyikan pengamen)

Terlalu lama juga saya ga memposting isi blog ini, bukan tak ada ide menulis,lebih tepatnya sih saya malas. Banyak ide menulis, namun semua buyar oleh kesibukan lain, kadang sempat berandai andai,ada mesin yang bisa menuliskan isi pikiran saat itu juga, mungkin saya akan membelinya,biar mudah.hehehe.

Aniwei pernah ketemu pengamen?
Ah pertanyaan basi ya, jelaslah pernah. Wong pengamen itu udah jadi bagian struktur masyarakat kok, selain pemulung dan peminta minta). Tulisan ini terinspirasi dari mereka, salah satu kaum marginal yang ada di kehidupan kita.
Mereka bisa darimana saja,dari kalangan apa saja,dan dari rentang umur berapa saja.

Ada yang wujudnya anak kecil. Di rumah saya,tiap siang ada anak kecil, mungkin sekitar 6 tahun umurnya), mengamen sekedarnya, sholawatan sekedarnya, setelah diberi uang ia pergi, sholawatnya ga selesai. Lain waktu ada beberapa anak kecil, nyanyinya sama, dan sama juga, setelah diberi uang,ia pergi, belum selesai sholawatnya.

Di deket lampu merah ada mereka, berwujud anak muda, ada yang perlente,ada yang dekil luar biasa. Ada yang hanya berbekal gitar, ada yang ditambahkan harmonica. Suaranya ada yang biasa, ada pula yang luar biasa. Ada yang ikhlas minta nya, ada yang sebaliknya…

Di atas bis, 
ehmm..ini ni yang mau saya perbincangkan…
Diatas bis mereka umumnya berada di posisi tengah bis, yaitu deretan bangku nomor 5 atau 6 (kalo jenis bis yang besar ya). Jadi jika anda  naik bis kota dan berada dalam posisi sangat lelah dari bepergian atau bekerja, say sarankan hindari duduk di deretan bangku 4 dan 5 jika tak mau terganggu oleh suara nyanyian mereka.
Untuk pengamen di bis ini saya membaginya menjadi 2 jenis pengamen yang saya amati,ada yang pengamen yang levelnya angkot (artinya ni pengamen sebenernya biasanya jamak ditemui ngamen di lampu merah atau angkot, pokoknya ga cocok untuk di bis deh), ada lagi yang level nya level bis beneran. Nah kalo yang level bis ini biasanya mereka kreatif, suaranya lumayan lho, dan tampilannya oke oke.

Pernah saya temui dalam perjalanan Bogor-Jakarta beberapa tahun lalu,pengamen wanita bersama bapaknya (semoga tebakan saya benar), suaranya bagus banget, penampilannya pokoknya oke banget, dan sempet mikir, ini pengamen beneran apa mahasiswi yang lagi “uji nyali” dengan tampil di muka umum ya.hehehe. Sempat beberapa minggu saya menikmati suaranya.
Ada lagi pengamen yang dari tampilan luarnya sudah seperti anak band yang turun ke bis untuk mentas. Gayanya sangat atraktif, tampilannya sangat menarik,suaranya bagus, pokoknya sangat komunikatif. Pokoknya tiap dia naik bis,ada satu lagu yang jadi favorit saya, soalnya dia menyanyikannya dengan gaya hiphop,diselingi rap, dan meng tap gitarnya sekaligus. Sampai sekarang pun saya penasaran itu lagu buatan dia sendiri atau bukan, soalnya saya cari di google dengan kata kunci lirik yang sempat saya ingat tidak ditemukan juga.
Nah sepertinya pengamen bis juga belajar banyak tentang psikologi penumpangnya, sepertinya mereka tau kondisi apa yang cocok dengan lagu apa,misalkan saja ya, saat pagi hari menjelang berangkat kerja, lagu yang mereka pilih adalah lagu bertema semangat atau lagu lagu mendayu dayu. Kemudian siang harinya,umumnya mereka memilih lagu yang bertempo cepat, kemudian malamnya mereka memilih lagu bertempo lambat,umumnya adalah lagu lagu jaman dulu yang ngehits.
 
Bagi saya sendiri,  mereka, para pengamen itu  “pengganggu”.
Ya pengganggu yang baik, makanya saya menuliskannya dalam tanda kutip,setidaknya kalo saya lagi tidak berada dekat deret kursi penumpang nomor lima, suaranya kan jadi sayup sayup, apalagi kalo lelah, seperti pengantar tidur bagi saya. Kalo kebagian dekat tempat mereka “mentas”, ya saya jujur, sering menikmati lagu yang mereka nyanyikan, karena kebanyakan mereka memang bagus suaranya (setidaknya dibanding saya)

Dan jika ingin memastikan apakah benar tulisan saya ini,silakan naik bis kotanya, dan nikmati perjalanannya.. syukur syukur ketemu mereka,pengamen di bis kota. 

Si “pengganggu” dari deret kursi nomor lima