UN : Ujiannya Ngeri

18 April 2013 § 0

"Harapan saya enggak ada UN. Bikin stres. Ya orang kan mesti dihitung disiplinnya, bukan cuma dari UN. Orang mesti dilihat prosesnya. Kalau sistem pendidikan yang baik itu prosesnya, bukan hasilnya," tegas Ahok, di Balai Kota Jakarta, Senin (15/4/2013).

Heran,semakin maju zaman,semakin canggih teknologi,semakin mudah manusia, eh malah kok kayaknya makin ngeri ya..

Berita tentang carut marutnya Ujian Nasional menghiasi timeline,new status dan headline di media yang sayabaca. Mulai dari penundaan Un di 11 provinsi sampe acara acara istigosah dan sampai hal hal klenik seperti menjampi jampi pensil ujian yang akan digunakan. Kondisi apa ini?

Kok kayaknya jaman saya EBTANAS dulu ga seheboh ini deh

Itu cuplikan status saya di FB beberapa waktu lalu. Mekanisme UN seyogyanya adalah mekanisme pendidikan, dimana di dalamnya ada manajemen pelaksanaan dan ada konsep standarisasi dan evaluasi, dan 2 poin ini yang menurut saya berkontribusi besar menyebabkan UN kali ini nge hits banget.

Manajemen Pelaksanaan
UN sebagai sebuah sarana penguji bagi siswa seharusnya dilaksanakan secara profesional dan terencana. Keterlambatan soal ujian dan penundaan ujian di beberapa provinsi merupakan cerminan buruknya metode pelaksanaan Ujian yang sifatnya Nasional ini. Perlu kita pahami, tidak usah lah memandang dari segi ujiannya, wong dari kondisi biasanya saja, untuk wilayah wilayah yang terpencil itu sudah diketahui sulit dijangkau dari segi transportasi, lha kenapa ga coba mendahulukan distribusi soal UN ke wilayah itu dulu. Prioritaskan mereka baru wilayah yang lebih mudah dijangkau, jadi distribusi soal ga kacau seperti ini dan UN ga ada ceritanya ditunda kayak sekarang,Selain itu apa ga dibentuk satgas yang mengkoordinir wilayah wilayah pendistribusian UN ya, toh menurut saya jaman sekarang ga ada hambatan lagi bagi distribusi UN kecuali manajemen pelaksanaannya yang kacau balau.

Jaman sekarang teknologi komunikasi sudah berkembang pesat, teknologi transportasi sudah maju sekali namun kenapa ada keterlambatan?

Alat seperti mesin mesin dan kendaraan hanya bersifat tool yang membantu manusia, sedangkan jika factor manusianya sendiri tidak bisa memanfaatkannya ya tetap saja hasilnya kacau balau kan.

Evaluasi plus Standarisasi
Masih ingat saya beberapa waktu lalu tentang pro kontra UN, yang intinya “lakukan atau hapuskan UN”. Saya sendiri berpendapat bahwa UN itu perlu tapi harus dimodifikasi. Dalam artian UN boleh saja dijadikan tolak ukur evaluasi tapi bagi saya pribadi tidak usah dijadikan alat untuk menstandarisasi. Dalam faktanya sekarang UN menjadi alat standarisasi , jika tidak lulus UN maka siswa tersebut tidak cerdas, dan begitu sebaliknya.

Akibatnya banyak hal hal yang berbeda dengan jaman dulu, jadi ga aneh sekarang saya liat berita ada sekolah yang siswa nya melakukan istigosah trus doa bersama menjelang UN bahkan hal hal klenik kayak jampi jampi,mandi kembang,hingga diruwat muncul menjelang UN ini.

Kemunduran moralkah, hingga terjadi seperti ini,atau phobia berlebihan sehingga terjadi seperti ini?

Konsep pendidikan adalah mengembangkan potensi anak secara maksimal, dan medianya adalah dengan dididik oleh mereka yang disebut pengajar atau guru. UN sebaiknya digunakan sebagai alat evaluasi prose pendidikan yang terjadi selama ini sehingga bisa dilakukan perbaikan.

Perlu diperhatikan pula potensi tiap siswa itu berbeda, mereka yang nilainya jelek secara akademik bukan berart mereka tidak cerdas, karena bisa jadi ia lebih pintar di bidang lain. Seorang anaka yang nilai Matematika dan Fisika nya sellau 3 bisa jadi memiliki nilai 10 di bidang menari, dan ini yang arus kita pahami sebagai potensi. Pendidikan sejatinya tidak mengenal kategori, karena dasarnya sudah jelas, tipa orang memiliki potensi yang berbeda. Dan disini peran pendidikan itu.

Fakta sekarang adalah, siswa “dipaksa” belajar untuk beberapa mata ujian (yang bisa jadi bukan potensi tertingginya),kemudian diujikan selama 3-5 hari dan kemudian menunggu hasil nya. Muncul cap “lulus ujian” dan “tidak lulus ujian”. Dan akibatnya semua pihakmenjadi panic luar biasa, si anak sibuk les sana sini demi menambah pengetahuannya, ortu sibuk dan ketar ketir saat hasil try out anaknya ga memuaskan, dan guru juga was was khawatir anak didiknya ga lulus UN.

Kenapa ga kita coba dari konsep dasar pendidikan itu saja, buat UN sebagai alat evaluasi tapi jangan standarisasi.Jadi tidak menjadikan patokan hasil UN untuk masuk ke jenjang selanjutnya. Posisikan saja UN sebagai alat evaluasi bahwa anak didik ini lemah di mata uji ini, dan kuat di mata uji ini,sehingga anak didik tidak menjadi tertekan.

 Ini sih sekedar usul saja tapi bagi saya, saya pribadi setuju dengan pendapat Ahok (wakil gubernur Jakarta), pendidikan itu hendaknya dilihat dari proses bukan hasil akhir. Proses yang baik akan menghasilkan ouput yang baik (insya allah). Dengan memfokuskan pada proses pendidikannya, maka semua pihak baik guru, ortu dan siswa nya senidri bisa lebih nyaman melaksanakannya. Pemerintah, harusnya memfasilitasi saja proses ini, sediakan system pendidikan yang layak,ruang kelas yang nyaman, sarana pendukung yang update, dan kualitas guru yang meningkat.

Saya pribadi berpendapat bahwa setiap orang punya potensi masing masing, dan kecerdasannya tidak bisa digeneralisir. Dan adalah tugas guru dari masing masing siswa yang harus mengembangkan potensi anak didiknya.Biarkan guru sebagai si pendidik yang melakukan proses mengembangkan potensi bagi si anak didiknya, Biarkan proses terjadi dan liat hasilnya. UN boleh saja diadakan,tapi jangan jadi patokan utama bagi kualitas pendidikan masing-masing siswa, apalagi jadi alat ukur untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, bisa salah kaprah jadinya.

Ah Andai Saja

22 February 2013 Comments Off


Setelah jumat
Uang seorang Jamaah jumat jatuh di sajadah orang di belakangnya, dan yang di belakangnya, menyodorkan uang tersebut ke si empunya.
Tanpa kata,hanya senyum yang berbalas, dan mungkin ucapan terima kasih dalam hati.
Dan itu ikhlas yang terperi.
Tadi saat Salat Jumat di masjid dekat kantor saya, sebuah kejadian menarik yang mencetuskan ide nulis ini.
Selembar uang dua puluh ribu rupiah berada di depan sajadah jamaah yang duduk di deretan saya,tanpa banyak bicara dia menggunakan bahasa isyarat seolah olah menanyakan jamaah kiri kanannya “apakah ini uang anda?”.
Dan jamaah dekatnya menggoyangkan tangannya tanda bahwa bukan uangnya sembari mengarahkan telunjuk tangannya ke jamaah depannya.
uang dia mungkin” sepertinya itu arti telunjuk tersebut.
Dan jamaah yang menemukan uang tersebut kemudian seolah mengiyakan petunjuk itu mencolek jamaah depannya dengan menggunakan bahasa isyarat yg sama “apakah ini uang anda?”.
Dan jamaah depannya seolah mengiyakan dan mengambil uluran tangan dari jamaah yg menemukan uang tersebut seraya tersenyum.
Ucapan terima kasih tampaknya.

Sebuah kejadian simple tapi berkesan bagi saya.
Sebuah tempat suci, masjid namanya, dan kemuliaan tempat itu membuat orang orang yang disana menjadi lebih mulia.
Kita ga pernah tahu apakah kejadian seperti tadi bisa terjadi di luar masjid. Maksud saya, andai saja kejadian seperti tadi tidak hanya terjadi di masjid. Sungguh mulia bangsa ini.
Bayangkan saja jika mereka yang menemukan sesuatu yang bukan haknya( seperti uang jamaah tadi) berani mengembalikan ke pada yang berhak, apakah tidak mulia bangsa ini.
Tidak akan sengsara masyarakat karena tidak ada yang berani mengambil hak orang lain
Tidak akan terpuruk bangsa ini karena tidak ada yang berani menyerobot hak orang lain.

Apakah karena masjid adalah tempat mulia, area dimana Habluminallah adalah segalanya, sehingga manusia lebih menjadi bijak dan bertindak mulia, tidak berani mengambil yang bukan haknya?
(Bisa saja kan si jamaah tadi masukkan uangnya ke kantongnya dan seolah olah itu uang pribadinya?)

Whoaaaa melihat kejadian tadi saya berandai andai coba kejadian sperti itu ga cuma terjadi di mesjid dan ga cuma terjadi dalam skala kecil pasti Indonesia bisa lebih sejahtera dan makmur secara merata.
Karena sejujurnya kita butuh kejujuran seperti itu, kejujuran yang mencerahkan bagi kita semua.
Kalo saja kejadian itu terjadi dalam skala lebih besar dan tidak terjadi saat di rumah ibadah saja,
Mungkin
Indonesia sudah menjadi bangsa yang  lebih mulia.
Halah…
Lupakan saja racauan saya ini, saya tetap harus melihat realita bukan perandaian kan. 




Salaam salaam...

Elo tu penting bangeet taooooooo...

23 January 2013 Comments Off

How Important You Are

“eh tag ke gw dong foto kita waktu di bla blab la bla (nyebutin beberapa tempat)"
oke,ntar gw tag-in

Dan eng ing eng, banyak foto di wall Facebook yang penuh dengan tag dari orang lain, Wall saya pun ga luput dari itu. Akibatnya saat kita melongok ke kategori foto di wall pribadi Facebook kita, maka bisa jadi akan lebih banyak foto yang men- tag kita dibanding foto yang kita miliki sendiri.

Kepuasan pribadi?

Iya sih,setidaknya mungkin menurut saya menunjukkan eksistensi dan memori. Eksistensi ya minimal bisa bilang dalam hati
eh gw kemarin di sini lho,sama si ini si anu dan si ono…
eh gw dulu pernah sama anak anak ini ini dan ini ke tempat ini lho…
Juga memori, ya memori bahwa ada kenangan yang ingin disampaikan dengan berbagi tag  foto di Facebook tersebut. Gambar adalah media terbaik untuk mengingatkan segala hal yang terjadi di suatu saat dan suatu tempat. Berbeda dengan tulisan yang kita masih harus mendeskripiskannya dengan otak kita dahulu baru bisa memunculkan memori yang ada. Gambar menyajikan apapun yang terjadi di suatu saat hanya dengan melihat suatu cuplikan gambar tersebut.

Tapi sekarang format tag men tag itu sudah mulai bergeser, bukan lagi porsi “yang ada foto kita nya”, tapi menjadi “ yang bisa dilihat oleh kita nya secara cepat”. Maka ga usah heran,ada orang yang saat ia buka akses ke foto di akun Facebook nya, maka foto yang paling banyak men tag dia justru foto yang dia (si pemilik akun Facebook tersebut) malah tak ada wajahnya, tangannya,kuku bahkan (maaf) bulu ketek nya sama sekali. 
Ga usah terlalu heran  kalo paling banyak foto yang men-tag anda justru barang jualan  mulai dari batik sampe celana dalam, mulai dari sekedar obat herbal sampe alat elektronik, mulai dari blackberry sampe aksesoris unik.

Ya akses foto sekarang tidak lagi sekedar “lu gw tag di foto ini karena ada muka lu di foto tersebut”. Akses foto sekarang lebih kepada “how important you are”. Nah pengertian ini menjadi kompleks, karena “how important you are” nya sudah bergeser, bukan lagi karena “kamu ada di foto itu”, tapi lebih kepada “ kamu  harus tahu foto ini”. Nah inilah format baru tag foto era digital, sisipan ala marketing digital dimana pasarnya adalah kita begitu kuat. Dimana mana pemasaran ala tag men tag ini sudah menjamur, bahkan pernah saya lihat wall teman saya yang isinya foto jualan semua. Bukan dia yang jualan,tapi orang lain yang secara kebetulan atau tidak jadi teman dalam list Facebook nya. 

Sah sah saja menurut saya ga ada yang salah, bahkan menurut saya, semakin banyak anda di tag oleh mereka yang menjual produk mereka, bisa jadi karena mereka menganggap anda adalah “ Most important Person” bagi lini usaha mereka.
Jadi sudah kelihatan kan “how important you are” dalam dunia per facebook-an?
Saat akses foto di akunmu penuh dengan foto yang men tag dirimu, itu bisa jadi dalam dunia Facebook itu, kamu sangat penting, bahkan bisa dikategorikan sungguh sungguh sangat penting bagi mereka yang men tag dirimu dalam suatu foto.

Ya
Meskipun bisa jadi lebih banyak foto yang tidak ada nya dirimu dibanding ada nya dirimu,
Meskipun lebih banyak foto yang menunjukkan barang barang jualan dibanding foto yang be relasi langsung dengan suatu momen yang ada dirimu.




Tak selalu (baik)

22 January 2013 § 0

Orang yang berakal itu bukan lah orang yang mengetahui kebaikan dan keburukan, namun sesungguhkan orang yang berakal itu adalah apabila ia melihat kebaikan maka ia mengikutinya dan apabila ia mendapatkan keburukan ia menjauhinya.

Ibnu Uyainah dalam al-Hilyah (VIII/339)
[Dinukil melalui perantaraan Kasyfu Syubuhaat al-Ashriyah ‘anid Da’watil Ishlahiyah as-Salafiyyah, karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz ar-Rayyis, dalam islamicancient.com)

Seorang teman bercerita bagaimana ia sudah berlaku baik kepada seseorang, namun saat ia membutuhkan bantuan orang tersebut, ia tidak mendapatkan bantuan yang ia harapkan ia dapat dari orang tersebut.


Balas budi ?

Pamrih?

Ya dalam hidup, ekspektasi yang sering dipikirkan manusia adalah

“jika kita berbuat baik, maka Insya Allah dibalas juga dengan kebaikan”

Nah yang sering kita lupa, kebaikan itu bisa dalam berbagai macam bentuk dan bisa datang bukan dari orang yang sama yang sudah kita beri kebaikan

Ini poin yang orang sering lupa. 
Akibatnya, saat kita melakukan kebaikan ke satu orang,kemudian saat orang tersebut berbuat jahat atau yang tidak baik kepada kita, maka timbul perasaan kecewa, menyesal, dan sedih. Ya kecewa dan kesal, karena kebaikan yang telah kita beri tidak dibalas dengan kebaikan yang sama dari orang tersebut.


Aniwei pada konteks ini saya cuma mau bilang, baik  itu  banyak makna, jangan pernah berharap melakukan kebaikan akan dibalas kebaikan juga dari sumber yang sama. 

Mengharap boleh, tapi Tuhan-lah yang berwenang memilihkan jalan kebaikan apa yang akan ia berikan ke kita.

Biarkan Tuhan yang memilihkan  kebaikan dari siapa yang akan kita dapatkan, dan Biarkan Tuhan yang memilihkan balasan kebaikan atas tindakan kita itu, apakah jatuh ke kita sendiri, orang orang terdekat kita, atau malah anak cucu kita. 
Biarkan saja Tuhan yang memilihkan balasan kebaikan seperti apa yang akan Ia berikan, besar atau kecil.

Mari kita tidak mengintervensi Tuhan dengan mengharap lebih atas segala kebaikan yang telah coba kita lakukan.



Tugas kita hanya, lakukan kebaikan saja selagi bisa, selagi masih ada waktu, dan selagi ada kesempatan untuk berbuat baik.


Dan satu lagi, jika kita berbuat baik, dan dibalas dengan hal sebaliknya, jangan pernah menyesal untuk selalu melakukan kebaikan. Karena itu tandanya Tuhan sayang sama kita, dia berikan kita "ladang" untuk menambah pahala, dengan melakukan milyaran kebaikan lainnya, dan dengan membalas hal tidak baik tersebut dengan kebaikan yang bisa kita lakukan ke orang lain.


Jika Kebaikan dibalas kebaikan itu adalah perkara biasa, jika kejahatan dibalas kebaikan itu mulia dan terpuji

-------------++---------------