"Harapan saya enggak ada UN. Bikin stres. Ya orang kan mesti dihitung disiplinnya, bukan cuma dari UN. Orang mesti dilihat prosesnya. Kalau sistem pendidikan yang baik itu prosesnya, bukan hasilnya," tegas Ahok, di Balai Kota Jakarta, Senin (15/4/2013).
Heran,semakin maju zaman,semakin
canggih teknologi,semakin mudah manusia, eh malah kok kayaknya makin ngeri ya..
Berita tentang carut marutnya
Ujian Nasional menghiasi timeline,new status dan headline di media yang sayabaca. Mulai dari penundaan Un di 11
provinsi sampe acara acara istigosah dan sampai hal hal klenik seperti menjampi
jampi pensil ujian yang akan digunakan. Kondisi apa ini?
“Kok kayaknya jaman saya EBTANAS
dulu ga seheboh ini deh”
Itu cuplikan status saya di FB
beberapa waktu lalu. Mekanisme UN seyogyanya adalah mekanisme pendidikan,
dimana di dalamnya ada manajemen pelaksanaan dan ada konsep standarisasi dan
evaluasi, dan 2 poin ini yang menurut saya berkontribusi besar menyebabkan UN
kali ini nge hits banget.
Manajemen Pelaksanaan
UN sebagai sebuah sarana penguji
bagi siswa seharusnya dilaksanakan secara profesional dan terencana.
Keterlambatan soal ujian dan penundaan ujian di beberapa provinsi merupakan
cerminan buruknya metode pelaksanaan Ujian yang sifatnya Nasional ini. Perlu
kita pahami, tidak usah lah memandang dari segi ujiannya, wong dari kondisi
biasanya saja, untuk wilayah wilayah yang terpencil itu sudah diketahui sulit
dijangkau dari segi transportasi, lha kenapa ga coba mendahulukan distribusi
soal UN ke wilayah itu dulu. Prioritaskan mereka baru wilayah yang lebih mudah
dijangkau, jadi distribusi soal ga kacau seperti ini dan UN ga ada ceritanya
ditunda kayak sekarang,Selain itu apa ga dibentuk satgas yang mengkoordinir
wilayah wilayah pendistribusian UN ya, toh menurut saya jaman sekarang ga ada
hambatan lagi bagi distribusi UN kecuali manajemen pelaksanaannya yang kacau
balau.
Jaman sekarang teknologi
komunikasi sudah berkembang pesat, teknologi transportasi sudah maju sekali
namun kenapa ada keterlambatan?
Alat seperti mesin mesin dan
kendaraan hanya bersifat tool yang membantu manusia, sedangkan jika factor
manusianya sendiri tidak bisa memanfaatkannya ya tetap saja hasilnya kacau
balau kan.
Evaluasi plus Standarisasi
Masih ingat saya beberapa waktu
lalu tentang pro kontra UN, yang intinya “lakukan atau hapuskan UN”. Saya
sendiri berpendapat bahwa UN itu perlu tapi harus dimodifikasi. Dalam artian UN
boleh saja dijadikan tolak ukur evaluasi tapi bagi saya pribadi tidak usah
dijadikan alat untuk menstandarisasi. Dalam faktanya sekarang UN menjadi alat
standarisasi , jika tidak lulus UN maka siswa tersebut tidak cerdas, dan begitu
sebaliknya.
Akibatnya banyak hal hal yang
berbeda dengan jaman dulu, jadi ga aneh sekarang saya liat berita ada sekolah
yang siswa nya melakukan istigosah trus doa bersama menjelang UN bahkan hal hal
klenik kayak jampi jampi,mandi kembang,hingga diruwat muncul menjelang UN ini.
Kemunduran moralkah, hingga terjadi
seperti ini,atau phobia berlebihan sehingga terjadi seperti ini?
Konsep pendidikan adalah
mengembangkan potensi anak secara maksimal, dan medianya adalah dengan dididik
oleh mereka yang disebut pengajar atau guru. UN sebaiknya digunakan sebagai
alat evaluasi prose pendidikan yang terjadi selama ini sehingga bisa dilakukan
perbaikan.
Perlu diperhatikan pula potensi
tiap siswa itu berbeda, mereka yang nilainya jelek secara akademik bukan berart
mereka tidak cerdas, karena bisa jadi ia lebih pintar di bidang lain. Seorang
anaka yang nilai Matematika dan Fisika nya sellau 3 bisa jadi memiliki nilai 10
di bidang menari, dan ini yang arus kita pahami sebagai potensi. Pendidikan
sejatinya tidak mengenal kategori, karena dasarnya sudah jelas, tipa orang
memiliki potensi yang berbeda. Dan disini peran pendidikan itu.
Fakta sekarang adalah, siswa
“dipaksa” belajar untuk beberapa mata ujian (yang bisa jadi bukan potensi
tertingginya),kemudian diujikan selama 3-5 hari dan kemudian menunggu hasil nya.
Muncul cap “lulus ujian” dan “tidak lulus ujian”. Dan akibatnya semua pihakmenjadi
panic luar biasa, si anak sibuk les sana sini demi menambah pengetahuannya,
ortu sibuk dan ketar ketir saat hasil try out anaknya ga memuaskan, dan guru
juga was was khawatir anak didiknya ga lulus UN.
Kenapa ga kita coba dari konsep
dasar pendidikan itu saja, buat UN sebagai alat evaluasi tapi jangan
standarisasi.Jadi tidak menjadikan patokan hasil UN untuk masuk ke jenjang
selanjutnya. Posisikan saja UN sebagai alat evaluasi bahwa anak didik ini lemah
di mata uji ini, dan kuat di mata uji ini,sehingga anak didik tidak menjadi
tertekan.
Ini sih sekedar usul saja tapi bagi saya, saya
pribadi setuju dengan pendapat Ahok (wakil gubernur Jakarta), pendidikan itu
hendaknya dilihat dari proses bukan hasil akhir. Proses yang baik akan
menghasilkan ouput yang baik (insya allah). Dengan memfokuskan pada proses
pendidikannya, maka semua pihak baik guru, ortu dan siswa nya senidri bisa
lebih nyaman melaksanakannya. Pemerintah, harusnya memfasilitasi saja proses
ini, sediakan system pendidikan yang layak,ruang kelas yang nyaman, sarana
pendukung yang update, dan kualitas guru yang meningkat.
Saya pribadi berpendapat bahwa
setiap orang punya potensi masing masing, dan kecerdasannya tidak bisa digeneralisir.
Dan adalah tugas guru dari masing masing siswa yang harus mengembangkan potensi
anak didiknya.Biarkan guru sebagai si pendidik yang melakukan proses
mengembangkan potensi bagi si anak didiknya, Biarkan proses terjadi dan liat
hasilnya. UN boleh saja diadakan,tapi jangan jadi patokan utama bagi kualitas
pendidikan masing-masing siswa, apalagi jadi alat ukur untuk memasuki jenjang
pendidikan yang lebih tinggi, bisa salah kaprah jadinya.
